Jakarta - Starbucks Korea mengambil langkah dramatis dengan menutup seluruh gerainya selama setengah hari pekan depan. Bukan karena libur atau perbaikan, melainkan untuk memaksa seluruh karyawan mengikuti pelajaran sejarah. Keputusan ini muncul setelah aksi promosi cangkir edisi khusus memicu amarah publik.
Kemarahan meledak setelah Starbucks meluncurkan promosi 'Hari Tank' atau 'Tank Day' pada peringatan Pemberontakan Gwangju 1980. Peristiwa berdarah itu menewaskan sedikitnya 165 warga sipil yang ditembak mati oleh militer. Banyak pihak meyakini angka korban jiwa sebenarnya jauh lebih tinggi. Promosi yang dianggap tidak sensitif ini langsung menuai kecaman keras.
Akibat skandal ini, Shinsegae Group selaku pemegang lisensi Starbucks di Korea Selatan langsung memecat direktur utama setempat pada hari yang sama. Bahkan, Ketua Chung Yong-jin juga diumumkan akan ikut serta dalam pelatihan sejarah tersebut. Sebagai bentuk pertobatan, seluruh gerai Starbucks di Korea akan tutup lebih awal pada pukul 15:00 waktu setempat, Rabu pekan depan, dan baru buka lagi keesokan harinya.
Dalam pernyataannya, Starbucks Korea menambahkan bahwa pada hari Senin, seluruh karyawan akan menerima 'pendidikan kesadaran sejarah dan kepekaan sosial melalui menonton video'. Ini menjadi pertama kalinya Starbucks Korea tutup serempak secara nasional sejak pertama kali hadir di negara tersebut pada tahun 1999.
Analisis Dampak: Langkah ini bukan sekadar gimmick. Ini adalah respons panik dari korporasi besar yang terlambat menyadari sensitivitas sejarah. Bagi masyarakat Korea Selatan, Pemberontakan Gwangju adalah luka mendalam yang menjadi fondasi demokrasi mereka. Promosi yang menyebut 'Tank Day' dan menggunakan kata 'Tak'—yang identik dengan pernyataan kontroversial polisi soal kematian aktivis mahasiswa pada 1987—dianggap sebagai penghinaan. Dampaknya langsung terasa: aksi boikot meluas dan penjualan anjlok. Bagi korporasi global, kasus ini menjadi pengingat keras bahwa penggunaan AI untuk pemasaran tanpa pengawasan manusia dan konteks sejarah bisa menjadi bumerang yang menghancurkan reputasi.