PANAS BUANGAN AI DISULAP JADI ENERGI - Berita Dunia
← Kembali

PANAS BUANGAN AI DISULAP JADI ENERGI

Foto Berita

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) ternyata menyimpan masalah besar yang jarang disorot: konsumsi energi dan air yang masif. Pusat data AI di seluruh dunia kini menyerap listrik dalam jumlah raksasa, setara dengan total konsumsi listrik satu negara besar. International Energy Agency (IEA) mencatat, pada 2024 saja, pusat data global menghabiskan 485 terawatt jam listrik atau sekitar 1,5 persen dari total pasokan energi dunia—setara dengan seluruh produksi listrik Jerman. Angka itu diproyeksikan melonjak dua kali lipat menjadi 3 persen pada 2030, didorong oleh ekspansi AI yang tak terbendung.

Masalahnya, sebagian besar energi itu berakhir sebagai panas buangan yang selama ini dilepas begitu saja ke udara. Di sinilah terobosan dari Denmark menarik perhatian. Para insinyur di sana menemukan cara menangkap 100 persen panas buangan dari pusat data menggunakan teknologi pendingin cair canggih rancangan perusahaan rekayasa Danfoss. Alih-alih dibuang lewat kipas dan AC konvensional, panas dari chip prosesor bersuhu tinggi diserap langsung oleh cairan pendingin, lalu dialirkan untuk dimanfaatkan kembali—misalnya untuk pemanas distrik atau kebutuhan energi lain.

Contoh nyatanya adalah superkomputer Bitten di Universitas Southern Denmark, Sonderborg, yang jadi rujukan riset AI nasional. Selama 24 jam nonstop, prosesornya menghasilkan panas ekstrem, dan kini seluruh limbah panas itu tidak terbuang sia-sia. Langkah ini menjadi jawaban atas kekhawatiran global: PBB melalui UNECE telah memperingatkan bahwa ekspansi raksasa pusat data milik Google, Amazon, dan Microsoft menjadi ancaman serius bagi sistem kelistrikan dunia. Tekanan publik juga memanas—di Belanda polisi menangkap pengunjuk rasa penolak pembangunan pusat data Microsoft dekat Amsterdam, sementara warga Texas ramai-ramai memprotes operasi AI dan SpaceX milik Elon Musk. Dengan inovasi daur ulang panas ini, masa depan pusat data bisa jadi tidak lagi identik dengan pemborosan energi, melainkan sumber energi baru yang berkelanjutan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook