Washington, DC – Seorang hakim federal di Amerika Serikat memutuskan untuk membuka rekaman suara pribadi mantan Presiden Joe Biden ke publik. Keputusan ini jadi pukulan telak bagi Biden yang sebelumnya mengajukan gugatan demi melindungi privasinya.
Hakim Distrik AS, Dabney Friedrich, yang merupakan orang kepercayaan Donald Trump, menolak argumen Biden. Menurut sang hakim, meskipun ada risiko kerusakan reputasi, kepentingan publik untuk mengakses rekaman tersebut jauh lebih besar.
Rekaman ini dibuat Biden saat masih menjadi warga biasa, bersama penulis bayangannya, Mark Zwonitzer, untuk buku memoar berjudul Promise Me, Dad: A Year of Hope, Hardship, and Purpose yang terbit tahun 2017. Isinya adalah percakapan pribadi di rumah Biden, jauh sebelum ia kembali menjabat sebagai presiden.
Bahan rekaman itu awalnya disita oleh Departemen Kehakiman pada 2023 dalam penyelidikan khusus terkait penanganan dokumen rahasia oleh Biden. Meski penyelidikan itu akhirnya tidak menjerat Biden secara pidana, rekaman tersebut justru kini menjadi senjata makan tuan.
Heritage Foundation, sebuah lembaga think tank konservatif, mengajukan permintaan akses melalui Freedom of Information Act (FOIA) dan menang. Kelompok ini dikenal sebagai pendukung garis keras Trump dan kerap menjadi lawan politik Biden.
Analisis Dampak: Keputusan ini membuka luka lama soal kapasitas mental dan usia Biden. Publik kini bisa mendengar langsung bagaimana cara Biden berpikir dan berbicara di momen pribadi, yang bisa memperkuat atau justru memperlemah persepsi publik. Di sisi lain, ini jadi preseden hukum baru: bahwa seorang mantan presiden tidak bisa serta-merta mengklaim hak privasi untuk menutupi dokumen yang sudah masuk ranah investigasi publik.