ESKALASI PERANG AS-IRAN, 6 MALAM BERTURUT-TURUT BOMBARDIR BANDARA HINGGA JEMBATAN - Berita Dunia
← Kembali

ESKALASI PERANG AS-IRAN, 6 MALAM BERTURUT-TURUT BOMBARDIR BANDARA HINGGA JEMBATAN

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Untuk malam keenam berturut-turut, militer AS kembali melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran. Targetnya bukan main-main: bandara, jembatan, hingga menara komunikasi jadi sasaran.

Laporan media lokal Iran, seperti Tasnim dan Fars, menyebutkan ledakan terdengar di Pulau Qeshm, Bandar Abbas, Chabahar, Iranshahr, dan Bandar-e Khamir. Serangan rudal AS menghantam bandara di Iranshahr dan sebuah menara komunikasi di Bandar Abbas yang memicu pemadaman listrik massal. Sementara itu, sebuah jembatan di Bandar-e Khamir juga dilaporkan hancur terkena serangan.

Serangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menghantam infrastruktur vital Iran. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas dengan menyerang pangkalan udara AS di Bahrain, serta mengklaim serangan ke Kuwait dan Yordania menggunakan 32 drone yang menargetkan fasilitas vital.

Juru bicara Angkatan Darat Iran, Mohammad Akraminia, memperingatkan bahwa serangan balasan Iran akan meluas ke wilayah baru jika AS terus melanjutkan agresinya. Sementara itu, Jubir Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Trump tetap terbuka pada diplomasi, namun akan terus meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan di Selat Hormuz.

Analisis: Eskalasi ini menunjukkan bahwa gencatan senjata informal yang sempat terjalin melalui nota kesepahaman (MoU) bulan lalu kini berada di ambang kehancuran. Kedua pihak saling tuduh melanggar kesepakatan. Para pengamat menilai situasi ini adalah 'perang urat syaraf' di mana AS dan Iran saling mencoba memaksa lawan untuk mengalah. Dampaknya, negara-negara Teluk seperti Qatar dan Bahrain kini meningkatkan kesiagaan militer dan pertahanan udara di sekitar infrastruktur kritis mereka, menandakan bahwa konflik ini berpotensi meluas menjadi krisis kawasan yang lebih besar.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook