Turki kembali menyuarakan kekhawatiran mendalamnya terkait potensi pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dengan tegas memperingatkan Washington agar tidak menyerang Teheran, mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan melalui jalur diplomasi bertahap di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.
Dalam wawancaranya, Fidan menyatakan, 'Sangat salah untuk memulai perang lagi.' Peringatan ini muncul saat AS terus mengerahkan kekuatan militer besar, termasuk kelompok kapal induk, ke kawasan tersebut. Di sisi lain, Iran juga berjanji akan memberikan 'tanggapan komprehensif dan menyesakkan' jika diserang, sekaligus bersikeras pada haknya untuk pengayaan nuklir meski menyatakan siap bernegosiasi lagi.
Meskipun ada ancaman dan pengerahan militer, Fidan yakin solusi diplomatik masih mungkin. Ia menyarankan AS untuk membahas isu-isu dengan Iran secara bertahap, dimulai dari program nuklir, ketimbang memaketkan semua tuntutan yang bisa dianggap merendahkan oleh Teheran. Ankara juga menekankan pentingnya Iran membangun kepercayaan di kawasan dan memperhatikan bagaimana negara-negara tetangga memandang mereka, demi stabilitas jangka panjang.
Potensi konflik berskala penuh antara Amerika Serikat dan Iran akan membawa dampak serius yang meluas. Selain berisiko memicu krisis kemanusiaan dan mengacaukan stabilitas regional yang memang sudah rentan, perang di Timur Tengah juga akan mengguncang perekonomian global, terutama harga minyak. Ketegangan ini juga berisiko tinggi mengganggu Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia. Oleh karena itu, seruan diplomasi dari Turki menjadi krusial untuk mencegah eskalasi yang lebih parah.