Sebuah kisah pilu dari Amerika Serikat kembali menyoroti dampak kebijakan imigrasi yang ketat. Seorang ayah harus menelan pahitnya kenyataan saat sang putra meninggal dunia tanpa dirinya di sisi, terhalang jeruji tahanan imigrasi. Keluarga menuding, kebijakan ini bertanggung jawab atas kepergian Wael Tarabishi yang selama 30 tahun hidup bergantung pada perawatan ayahnya.
Maher Tarabishi, seorang warga Yordania berusia 62 tahun, selama puluhan tahun tak pernah absen merawat putranya, Wael (30), yang menderita penyakit genetik langka, Pompe. Penyakit ini menyebabkan kelemahan otot parah dan masalah pernapasan, mengharuskan Wael menerima perawatan 24 jam penuh serta puluhan operasi, semuanya diurus telaten oleh Maher. Namun, pada Oktober tahun lalu, kehidupan mereka berubah drastis. Maher ditahan oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) sebagai bagian dari pengetatan kebijakan imigrasi yang diterapkan saat itu.
Padahal, Maher sebelumnya diizinkan tinggal di AS di bawah 'supervision order' pengadilan sejak 2006 agar bisa merawat Wael, dengan syarat check-in tahunan rutin ke ICE, yang selalu ia patuhi selama lebih dari dua dekade. Namun, saat check-in terakhir, situasi berubah drastis dan ia langsung ditahan. Permintaan Maher untuk dilepaskan sementara demi melihat putranya di saat-saat terakhir atau menghadiri pemakamannya, selalu ditolak ICE.
Detensi Maher membuat Wael harus dirawat oleh anggota keluarga lain, termasuk iparnya, Shahd Arnaout. Namun, mereka mengaku kesulitan dan khawatir salah dalam penanganan Wael yang sangat rapuh. Mereka bahkan harus menunggu telepon dari Maher untuk menanyakan langkah perawatan yang benar, seperti saat selang makanan Wael bermasalah.
Keluarga melihat secara langsung kemunduran fisik dan psikologis Wael setelah ayahnya ditahan. Dalam beberapa bulan terpisah, Wael sampai dua kali masuk ICU dan kesehatannya terus memburuk hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pekan lalu. Shahd Arnaout dengan tegas menyatakan, "ICE bertanggung jawab atas kematian Wael. Mereka mungkin tidak membunuhnya dengan peluru, tapi mereka membunuhnya dari dalam." Kisah tragis ini menyoroti dilema kemanusiaan yang sering muncul dari penerapan kebijakan imigrasi yang kaku. Di satu sisi, ada kebutuhan akan penegakan hukum imigrasi, namun di sisi lain, kasus ini menunjukkan dampak mengerikan pada individu yang rentan dan keluarga. Kebijakan yang memisahkan pengasuh utama dari pasien dengan kondisi kritis seperti Wael, memicu pertanyaan etis tentang batas-batas kekuasaan negara versus hak asasi manusia untuk mendapatkan perawatan dan dukungan keluarga di masa sulit. Ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam yang perlu menjadi perhatian bersama.