Konflik Yaman kembali memanas dan merembet ke jantung Arab Saudi. Dalam kurun waktu dua hari, tepatnya 6 dan 7 Oktober, kelompok milisi Houthi melancarkan serangan udara ke dua bandara internasional milik Kerajaan Saudi. Otoritas Penerbangan Sipil Saudi (Gaca) melaporkan, serangan ke Bandara Abha menewaskan dua orang wanita berkebangsaan Maroko dan Aljazair, serta melukai 28 orang lainnya. Sementara itu, Bandara King Khalid di Riyadh juga menjadi sasaran, mengakibatkan satu warga Sudan tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut. Mereka mengaku menembakkan rudal balistik dan drone sebagai balasan atas 'agresi Saudi' yang menurut mereka telah melakukan 60 serangan udara dalam 24 jam terakhir. Eskalasi ini terjadi setelah Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah, termasuk pelabuhan Mokha di Selat Bab al-Mandab, yang merupakan jalur pelayaran vital dunia.
Menanggapi hal ini, koalisi pimpinan Saudi tidak tinggal diam. Mereka menyatakan serangan ke bandara tidak akan dibiarkan tanpa hukuman dan telah membombardir lebih dari 80 situs militer Houthi di beberapa provinsi. Situasi ini menandakan bahwa upaya gencatan senjata sementara yang dijalin sejak 2022 kini berada di ujung tanduk, membawa kekhawatiran baru bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.