SURGA WISATA JADI MARKAS KANAN JAUH: ADA APA DI PORTUGAL? - Berita Dunia
← Kembali

SURGA WISATA JADI MARKAS KANAN JAUH: ADA APA DI PORTUGAL?

Foto Berita

Di balik gemerlap pariwisata dan pesona pantai Algarve, Portugal, kini tersembunyi kegelisahan mendalam warga lokal. Kawasan yang selama ini jadi magnet turis Eropa itu sedang menghadapi realita pahit: penduduknya muak dengan biaya hidup yang terus melonjak tinggi dan merasa diabaikan oleh pemerintah pusat.

Gelombang turis dan pekerja asing memang menggerakkan roda ekonomi Algarve. Namun, dampaknya juga terasa pada lonjakan harga properti dan kebutuhan pokok yang tak terkendali. Banyak warga lokal kini mengeluh kesulitan membayar sewa rumah karena gaji yang stagnan, membuat mereka merasa Algarve tak lagi nyaman seperti dulu.

Kondisi ini menjadi lahan subur bagi Partai Chega (berarti "Cukup") yang berhaluan kanan jauh, dipimpin Andre Ventura. Dengan retorika anti-kemapanan dan anti-imigrasi, pesan Ventura sangat meresap di hati warga Algarve. Mereka merasa suara mereka tak didengar oleh para politisi di ibu kota Lisbon. Ventura, seorang mantan komentator sepak bola yang terang-terangan mengagumi Donald Trump, berhasil membawa Chega menjadi kekuatan oposisi utama di parlemen.

Pesatnya popularitas Ventura, yang bahkan sukses melaju ke putaran kedua pemilihan presiden, telah mengguncang lanskap politik Portugal. Negeri yang selama ini dianggap "kebal" dari gelombang populisme kanan jauh yang melanda negara-negara Eropa lainnya, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Ini adalah sinyal kuat bahwa masalah ekonomi dan sosial, jika tak ditangani serius, bisa dengan mudah mengubah arah politik suatu bangsa secara drastis.

Kebangkitan Chega di Portugal mencerminkan tren global di mana kesulitan ekonomi dan ketidakpuasan masyarakat seringkali dimanfaatkan oleh partai-partai populis. Mereka menawarkan solusi radikal atau mengidentifikasi "musuh" tertentu, seperti imigran, untuk menarik dukungan. Jika Ventura berhasil meraih kekuasaan, Portugal berpotensi menyaksikan perubahan signifikan dalam kebijakan imigrasi, ekonomi, dan hubungan internasionalnya. Ini juga menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada satu sektor ekonomi seperti pariwisata, tanpa disertai pemerataan dan kontrol yang memadai, bisa menimbulkan ketidakpuasan sosial yang berujung pada polarisasi politik yang berbahaya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook