BANDARA RIYADH KEMBALI BEROPERASI USAI SERANGAN HOUTHI - Berita Dunia
← Kembali

BANDARA RIYADH KEMBALI BEROPERASI USAI SERANGAN HOUTHI

Foto Berita

Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, akhirnya kembali dibuka dan beroperasi normal setelah sebelumnya lumpuh akibat serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi. Insiden ini bukan sekadar gangguan penerbangan biasa, melainkan sebuah eskalasi konflik yang memakan korban jiwa.

Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) melaporkan bahwa serangan yang terjadi pada hari Kamis tersebut menghantam fasilitas bandara dan merusak satu unit pesawat milik maskapai nasional Saudia. Akibatnya, seorang pilot bernama Kapten Hamoud Ali Alkalthami dilaporkan tewas, sementara sejumlah orang lainnya mengalami luka-luka dengan kondisi yang bervariasi.

Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi militer Houthi yang menyasar beberapa bandara di Arab Saudi dalam sepekan terakhir. Selain Riyadh, bandara di Abha, Jazan, dan Najran juga menjadi target. Pada serangan sebelumnya di awal pekan, tiga warga sipil dilaporkan tewas dan 36 lainnya luka-luka.

Juru bicara militer Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan ke Riyadh, dengan dalih rudal balistik mereka berhasil mencapai target. Mereka juga mengeluarkan peringatan keras kepada perusahaan penerbangan untuk menghindari wilayah udara Arab Saudi, kecuali untuk penerbangan ke kota suci Mekkah dan Madinah.

Analisis Dampak: Bagi masyarakat umum, khususnya pengguna jasa penerbangan, insiden ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait keselamatan transportasi udara di kawasan Timur Tengah. Kembalinya taktik serangan ke bandara sipil menunjukkan bahwa kelompok Houthi ingin menekan Arab Saudi secara ekonomi dan psikologis dengan melumpuhkan pusat konektivitas utama. Hal ini juga berpotensi meningkatkan harga tiket dan premi asuransi penerbangan ke kawasan tersebut. Sementara itu, dari kacamata geopolitik, serangan ini mempertegas bahwa konflik Yaman tidak lagi terkotak di dalam perbatasan negara itu, melainkan telah menjadi perang proksi regional yang mengancam stabilitas jalur pelayaran dan udara internasional.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook