Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ambles ke titik terlemah dalam sejarah. Pada perdagangan Kamis pekan ini, mata uang Garuda menembus level psikologis Rp18.028 per dolar AS, meskipun Bank Indonesia (BI) sudah berupaya melakukan intervensi.
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang berat. Pertama, perang antara AS-Israel dan Iran memicu kenaikan harga minyak mentah global lebih dari 1 persen. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia paling merasakan dampak dari lonjakan biaya energi ini.
Kedua, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut drastis dari USD3,3 miliar pada Maret menjadi hanya USD89 juta pada April. Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pasokan dolar dari ekspor menipis, sementara kebutuhan dolar untuk impor energi, bahan baku, dan pembayaran utang tetap besar. "Kenaikan suku bunga BI dan intervensi saja tidak cukup untuk membalikkan depresiasi rupiah," ujarnya.
Ketidakpastian kawasan juga bertambah karena AS mengancam akan mengenakan tarif impor tambahan 10-12,5 persen pada produk dari 60 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Situasi ini membuat investor asing cenderung menarik modalnya (capital outflow) dari Asia Tenggara.
Untuk menahan laju pelemahan, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen pada bulan lalu. Selain itu, sejak Mei, BI mewajibkan pembeli dolar AS di atas USD25.000 per bulan untuk menyertakan dokumen pendukung kebutuhan transaksinya.