Sebuah rekaman percakapan antara mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan mendiang terpidana kasus seks Jeffrey Epstein, baru-baru ini mengguncang Israel. Isi rekaman itu mengungkap rencana ambisius Israel untuk secara "selektif" menyerap hingga satu juta imigran berbahasa Rusia. Tujuan di baliknya bukan sekadar menambah populasi, melainkan strategi besar untuk mengubah peta demografi, menekan jumlah penduduk Palestina, sekaligus mengurangi pengaruh kelompok Yahudi Ortodoks yang kian dominan.
Bermula dari bocoran arsip Departemen Kehakiman Amerika Serikat, rekaman pertemuan antara Ehud Barak dan Jeffrey Epstein menjadi sorotan. Dalam percakapan yang tak bertanggal itu, Barak secara gamblang menyatakan bahwa Israel membutuhkan tambahan satu juta imigran berbahasa Rusia, sebuah pesan yang bahkan pernah ia sampaikan langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Barak menekankan kemampuan Israel saat ini untuk lebih "selektif" dalam memilih imigran dibandingkan era awal pembentukan negara. Pernyataan ini secara implisit merujuk pada gelombang imigrasi Yahudi Sephardi dari Afrika Utara dan Timur Tengah di masa lalu, yang diungkapkannya dengan nada merendahkan. Menurutnya, dulu Israel "menerima apa saja yang datang," namun kini mereka bisa "mengontrol kualitas lebih efektif."
Strategi ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, untuk mengimbangi populasi Palestina di wilayah yang diduduki Israel, sebuah upaya sistematis untuk mengubah komposisi demografi. Kedua, untuk memecah monopoli Rabinat Ortodoks dalam urusan keagamaan seperti pernikahan, pemakaman, dan bahkan definisi seorang Yahudi. Barak berharap, dengan membuka pintu konversi massal, pengaruh kelompok sekuler bisa diperkuat di tengah meningkatnya ketegangan antara Yahudi sekuler dan religius di Israel.
Sejarah mencatat, pasca-runtuhnya Uni Soviet pada 1989, hampir satu juta imigran dari bekas republik Soviet memang membanjiri Israel, dan sebagian besar dari mereka cenderung memiliki pandangan politik sayap kanan. Kebijakan imigrasi yang pro-aktif ini terus digalakkan Israel, bahkan secara spesifik menargetkan imigran dari Amerika dan Prancis.
Pengungkapan rekaman ini memicu perdebatan sengit di Israel dan komunitas internasional. Bagi sebagian pihak, ini adalah bukti nyata upaya Israel untuk memanipulasi demografi demi kepentingan politik, yang berpotensi memperdalam konflik dengan Palestina dan memperuncing polarisasi di internal masyarakat Yahudi. Sementara itu, keterlibatan Epstein dalam percakapan sensitif ini juga menambah pertanyaan tentang sejauh mana jaringan pengaruh sang pedofil meluas ke lingkaran politik global.