Jakarta, 12 Juni 2025 – Target ambisius Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengakhiri pekerja anak pada tahun 2025 resmi gagal. Data terbaru dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan UNICEF mengungkapkan fakta memprihatinkan: dari 2,4 miliar anak di bawah 18 tahun di dunia, sekitar 138 juta di antaranya masih terjebak dalam pekerja anak. Lebih mengkhawatirkan lagi, 54 juta anak di antaranya terpaksa bekerja di lingkungan berbahaya yang mengancam keselamatan dan perkembangan mereka.
Angka ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah total pekerja anak menurun, dua dari lima anak yang bekerja masih berhadapan dengan risiko ekstrem. Mulai dari mengangkat beban berat di perkebunan, menyemprot pestisida tanpa alat pelindung, hingga bekerja di tambang dan pabrik dengan mesin berbahaya. Pekerjaan ini tidak hanya melukai fisik, tetapi juga menghambat perkembangan mental dan memutus akses anak terhadap pendidikan.
Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar, menyerap 61 persen dari seluruh kasus pekerja anak. Artinya, ada sekitar 84 juta anak yang bekerja di ladang, perikanan, dan peternakan. 'Di banyak desa, anak-anak mulai bekerja sebelum matahari terbit. Ini jelas mengorbankan waktu sekolah mereka,' ungkap Lucia Soleti, perwakilan sementara UNICEF di Ghana.
Sub-Sahara Afrika menjadi pusat krisis global. Wilayah ini mencatat 87 juta pekerja anak, lebih banyak dari gabungan seluruh wilayah lain di dunia. Kemiskinan, konflik, dan krisis iklim menjadi pendorong utama. Sementara itu, sektor jasa dan industri masing-masing menyumbang 27 persen dan 13 persen dari total kasus pekerja anak secara global.
Analisis Dampak: Kegagalan mencapai target 2025 menunjukkan bahwa upaya internasional masih timpang. Tanpa intervensi serius, siklus kemiskinan antar-generasi akan terus berlanjut. Anak-anak yang kehilangan pendidikan hari ini, akan menjadi orang dewasa yang rentan dieksploitasi di masa depan. Krisis ini juga menjadi alarm bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk memperketat pengawasan rantai pasok dan memperkuat jaring pengaman sosial bagi keluarga rentan.