Jakarta – Penyeberangan Rafah, satu-satunya jalur darat Gaza yang tidak melewati Israel, akhirnya kembali dibuka setelah ditutup selama dua tahun di tengah konflik yang tak berkesudahan. Namun, euforia kabar ini langsung meredup. Dari ribuan warga Palestina yang sangat membutuhkan pertolongan medis di luar Gaza, hanya segelintir yang bisa melintas pada hari pertama pembukaan, Senin lalu.
Israel hanya memberi izin kepada lima pasien untuk meninggalkan Gaza melalui Rafah. Mereka ditemani oleh masing-masing dua orang pendamping, sehingga total hanya 15 individu yang bisa melintas. Angka ini amat kontras dengan harapan dan kebutuhan mendesak yang ada.
Mohammad Abu Mostafa, remaja 17 tahun dengan cedera mata parah akibat serangan udara Israel satu setengah tahun lalu, menjadi salah satu dari lima orang 'beruntung' tersebut. Ibunya, Randa, mengungkapkan betapa putus asanya mereka mencari pengobatan yang tidak tersedia di Gaza, tempat kondisi medis sudah jauh di bawah standar akibat blokade dan konflik.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah berkoordinasi dengan Mesir dan Israel untuk memberangkatkan setidaknya 50 pasien setiap harinya. Mohammad Abu Salmiya, Direktur Kompleks Medis al-Shifa Gaza, menegaskan bahwa hanya kelompok kecil itu yang diizinkan pergi, jauh dari kesepakatan awal.
Ismail al-Thawabta dari Kantor Media Pemerintah Gaza, menyoroti betapa timpangnya jumlah ini. Saat ini, ada sekitar 22.000 orang di Gaza yang sangat butuh perawatan medis ke luar negeri. Belum lagi 80.000 warga Palestina yang ingin kembali ke Gaza setelah mengungsi selama perang.
Pembukaan Rafah yang sangat terbatas ini, dengan prosedur keamanan yang ketat dan jumlah izin yang minim, jelas-jelas gagal memenuhi ekspektasi. Alih-alih menjadi bukti kemajuan kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat, peristiwa ini justru menelanjangi betapa parahnya krisis kemanusiaan di Gaza. Ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik narasi 'pembukaan', ribuan nyawa masih terancam oleh keterbatasan akses dan birokrasi yang rumit, memperpanjang penderitaan yang tak berujung bagi masyarakat Gaza.