ISRAEL TERANCAM RUNTUH? PAKAR: TAK SAMPAI 100 TAHUN! - Berita Dunia
← Kembali

ISRAEL TERANCAM RUNTUH? PAKAR: TAK SAMPAI 100 TAHUN!

Foto Berita

Masa depan Israel sebagai negara yang aman dan berkelanjutan dipertanyakan. Sejumlah pakar dan pengamat, baik dari dalam negeri maupun diaspora, memperingatkan bahwa Israel di ambang perubahan besar, bahkan mungkin tak akan mencapai usia 100 tahun kemerdekaannya. Apa yang membuat negara ini goyah?

Peringatan tersebut muncul seiring meningkatnya polarisasi politik, tekanan ekonomi yang kian terasa, dan gelombang emigrasi warga sekuler dari Israel. Jika kondisi ini terus berlanjut, para analis khawatir Israel tak lagi bisa mempertahankan entitasnya seperti saat ini dalam beberapa dekade ke depan. Mereka membandingkannya dengan perubahan yang dialami Afrika Selatan pasca-apartheid atau Jerman Timur setelah unifikasi—bukan lenyap, melainkan bertransformasi menjadi sesuatu yang berbeda.

Keretakan utama terjadi di internal masyarakat Israel sendiri, bukan semata-mata konflik dengan Palestina. Banyak warga Israel sekuler, termasuk para pengusaha di balik industri teknologi canggih negara itu, memilih meninggalkan tanah air. Bersamaan dengan itu, populasi Zionis relijius dan ultra-Ortodoks justru tumbuh pesat. Ironisnya, kelompok ini secara komparatif berkontribusi lebih rendah pada ekonomi dan seringkali mengandalkan subsidi pemerintah.

Eksodus kaum sekuler ini berpotensi menguras sumber daya finansial dan investasi yang krusial untuk menopang ambisi ekspansionis pemerintahan sayap kanan, sembari membebani anggaran negara dengan subsidi bagi komunitas ultra-Ortodoks. Polarisasi politik yang mendalam di Israel, yang diperparah oleh konflik, upaya pelemahan lembaga peradilan, serta manuver politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menjadi pemicu utama bagi para emigran sekuler ini.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Eugene Kandel, mantan Kepala Dewan Ekonomi Nasional Israel yang juga sekutu Netanyahu, dan Ron Tzur dari Israel’s Strategic Futures Institute. Pada tahun 2024, keduanya menyatakan pesimis bahwa Israel akan mencapai seratus tahun sejak didirikan pada 1948, jika tidak ada perubahan drastis. Mereka mengidentifikasi tiga kelompok utama yang membelah masyarakat: liberal-sekuler, penganut negara Yahudi relijius, dan kelompok yang menginginkan kesetaraan hak antara Yahudi dan Palestina. Perpecahan antara dua kelompok pertama menjadi ancaman eksistensial, memicu 'perang di rumah sendiri' atas identitas dan nilai-nilai yang sulit dihentikan tanpa perubahan fundamental.

Dengan demikian, masa depan Israel tidak hanya bergantung pada stabilitas regional, melainkan juga pada kemampuan mereka mengatasi keretakan internal yang makin lebar. Analis memperingatkan, jika perpecahan ini terus membesar, potensi krisis ekonomi, sosial, dan politik akan semakin nyata, mengubah wajah Israel yang kita kenal selama ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook