Dulu dielukan sebagai pahlawan perang yang tak gentar, kini popularitas Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy diuji lagi. Gelombang dukungan yang membumbung tinggi pasca-invasi Rusia pada Februari 2022 mulai bergeser, digantikan oleh pertanyaan tajam seputar tata kelola pemerintahan dan isu korupsi yang kembali mencuat di tengah masyarakat.
Perjalanan politik Zelenskyy memang penuh liku. Pada tahun 2019, ia berhasil merebut kursi kepresidenan dengan kemenangan telak 73 persen suara. Kala itu, mantan komedian ini menarik perhatian publik dengan janji-janji antikorupsi, mirip dengan karakter guru yang diperankannya di televisi. Ia digadang-gadang sebagai figur 'orang luar' yang akan membersihkan politik Ukraina dari jaringan oligarki yang mengakar.
Namun, masa-masa awal pemerintahannya tidak selalu mulus. Sebelum invasi skala penuh, popularitas Zelenskyy sempat anjlok hingga 31 persen pada Desember 2021, akibat berbagai tantangan seperti krisis energi dan pandemi COVID-19. Situasi ini menunjukkan volatilitas politik Ukraina yang oleh beberapa pengamat disebut 'demokrasi yang sangat dinamis, namun belum matang', di mana pemimpin seringkali dipuja lalu cepat ditinggalkan jika harapan perubahan tak segera terwujud – sebuah fenomena 'Messiah menjadi Paria'.
Semua berubah pada 24 Februari 2022. Ketika Rusia melancarkan invasi, Zelenskyy bertransformasi menjadi pemimpin perang. Dengan kaus militer hijaunya, ia menyampaikan pidato-pidato berapi-api melalui video swarekaman, menyerukan perlawanan, dan menolak meninggalkan Kyiv meski ada peringatan dari AS. Sikap heroiknya ini sontak melambungkan popularitasnya hingga 91 persen dalam minggu-minggu pertama invasi, menyatukan bangsa di balik kepemimpinannya.
Sayangnya, persatuan dan dukungan yang kuat itu kini mulai terkikis setelah empat tahun perang berskala penuh. Kekhawatiran masyarakat atas isu tata kelola pemerintahan dan korupsi kembali mencuat, sedikit demi sedikit mengikis citra Zelenskyy di mata publik domestik, meskipun ia masih dihormati sebagai tokoh internasional. Beberapa kasus dugaan korupsi, terutama yang melibatkan pengadaan barang militer atau pengunduran diri pejabat tinggi akibat skandal, telah memicu pertanyaan serius tentang transparansi dan akuntabilitas pemerintah di masa perang.
Kondisi ini tentu berdampak besar. Selain berpotensi mengikis kepercayaan publik, isu korupsi juga bisa mempersulit upaya Ukraina mendapatkan bantuan internasional, yang sangat vital untuk menopang pertahanan dan perekonomian. Lebih jauh, guncangan internal ini berisiko melemahkan kesatuan nasional yang sangat dibutuhkan Ukraina untuk menghadapi agresi Rusia. Pemerintah Zelenskyy kini dihadapkan pada tantangan ganda: melanjutkan perlawanan terhadap musuh eksternal sambil mengatasi erosi kepercayaan dari dalam negeri.