MOSKOW — Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menjadi tuan rumah pertemuan puncak Russia-Africa Summit yang ketiga, digelar selama dua hari di Moskow mulai Rabu (28/10). Forum ini menjadi ajang diplomasi bagi Rusia untuk memperkuat cengkeraman ekonomi dan keamanan di benua Afrika, di tengah tekanan sanksi Barat akibat perang di Ukraina.
Sebanyak 48 negara Afrika mengirimkan delegasinya, dengan 22 di antaranya dipimpin langsung oleh kepala negara. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan summit sebelumnya pada 2023, meski masih di bawah partisipasi perdana tahun 2019 yang dihadiri 43 pemimpin. Kremlin menyebut penurunan dulu terjadi karena tekanan Barat, namun kali ini kehadiran kembali menggeliat.
Dalam pertemuan ini, Putin dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed. Sejumlah nama yang erat kaitannya dengan ekspansi keamanan Rusia di Afrika juga masuk daftar tamu, seperti Ibrahim Traore dari Burkina Faso dan Abdourahamane Tchiani dari Niger. Selain itu, Presiden Kenya William Ruto, Presiden Uganda Yoweri Museveni, serta PM Namibia Netumbo Nandi-Ndaitwah turut hadir.
Agenda utama forum mencakup kerja sama politik, pertahanan, dan teknologi. Lebih dari 40 sesi diskusi dan 100 pembicara akan membahas perdagangan, investasi, transfer teknologi, keamanan pangan dan energi, kesehatan, hingga pertukaran pemuda. Nilai perdagangan Rusia-Afrika tercatat melampaui 28 miliar dolar AS, naik signifikan dari 16,8 miliar dolar AS pada 2019, meski masih terkonsentrasi di segelintir negara.
Menariknya, laporan African Security Analysis (ASA) menyebut pengaruh Rusia di Afrika lebih besar melalui jalur keamanan ketimbang dagang. Jika pada 2023 lalu pasukan Rusia—sebagian besar dari Wagner Group—hanya beroperasi di beberapa negara, kini ASA mencatat misi atau pasukan Rusia hadir di setidaknya sembilan negara Afrika. Kehadiran militer ini menjadi kartu truf Moskow untuk menawarkan stabilitas sekaligus akses sumber daya alam.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi warga Afrika, kehadiran Rusia membawa angin segar dalam hal alternatif keamanan dan pasokan pangan, terutama di negara-negara yang frustrasi dengan tekanan Barat. Namun, ketergantungan pada aktor asing untuk stabilitas justru berisiko menciptakan proxy conflict dan melemahkan kedaulatan lokal dalam jangka panjang. Sementara bagi masyarakat global, blok ekonomi baru ini berpotensi menggeser peta perdagangan energi dan mineral kritis yang selama ini dikuasai Barat.