Gelombang protes antimigran di Afrika Selatan kembali memanas dan berujung ricuh di dua kota besar, yaitu Soweto dan Durban, pada Kamis (26/9). Aksi massa yang menolak keberadaan imigran ini berubah menjadi kekerasan setelah beredar kabar seorang warga asing diduga menyerang salah satu demonstran di Durban. Polisi terpaksa menembakkan peluru karet untuk membubarkan massa, sementara pusat perbelanjaan dan pertokoan di pusat kota terpaksa tutup.
Akibat amukan massa, sebanyak 24 kendaraan dibakar—14 di Durban dan 10 di Soweto. Tidak hanya itu, toko-toko milik warga asing dijarah dan sebuah bangunan ikut dilalap api. Kepolisian setempat menyatakan tiga warga asing telah ditangkap terkait dugaan penyerangan yang memicu kemarahan massa. Meski situasi sangat tegang, pihak berwenang mengklaim belum ada laporan korban luka dalam insiden ini.
Kerusuhan ini dipicu oleh keputusan Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan pada Juli lalu yang mewajibkan pemerintah menghapus hambatan bagi pencari suaka, termasuk mereka yang masuk tanpa dokumen lengkap. Keputusan ini memicu kemarahan kelompok antimigran yang menilai kebijakan tersebut akan mempermudah masuknya migran ilegal. Aksi demo juga menyasar pusat penerimaan pengungsi, dengan massa menuntut agar permohonan suaka dihentikan.
Pihak kepolisian telah mengerahkan personel tambahan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan berjanji menindak tegas pelaku perusakan. Insiden ini menjadi pengingat kelam bahwa isu xenofobia masih menjadi bom waktu di Afrika Selatan, yang kerap menargetkan warga dari negara tetangga.