Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mulai menimbulkan efek domino yang serius hingga ke Benua Afrika. Para menteri perdagangan dan pejabat PBB memperingatkan bahwa melonjaknya harga bahan bakar dan pupuk akibat ketegangan di Selat Hormuz kini mengancam ketahanan pangan di sejumlah negara Afrika.
Direktur Divisi Perdagangan Internasional UNCTAD, Luz Maria de la Mora, menyoroti bahwa kenaikan harga pupuk yang drastis memaksa banyak negara mengurangi penggunaannya. Dampaknya tidak main-main: hasil panen tahun depan berpotensi menurun, yang ujung-ujungnya akan memicu kelangkaan dan kenaikan harga pangan.
Negara seperti Zimbabwe dan Uganda merasakan pukulan paling keras. Di Zimbabwe, di mana lebih dari 70 persen penduduknya bergantung pada sektor pertanian, kenaikan harga bahan bakar dan pupuk menjadi krisis yang mengkhawatirkan. Sementara di Uganda, harga bahan bakar dilaporkan lebih dari dua kali lipat, meskipun sektor pertanian subsisten sedikit membantu meredam gejolak pasar global. Namun, tekanan finansial tetap terasa dengan melemahnya nilai mata uang lokal terhadap dolar AS.
Krisis ini juga mengungkap kerentanan rantai pasok global. Ketergantungan dunia pada Selat Hormuz—yang sebelumnya menjadi jalur seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia—kini menjadi titik lemah yang memicu inflasi di negara-negara berkembang. Para pejabat menegaskan bahwa resolusi konflik di Timur Tengah harus segera dilakukan agar dampak ekonomi tidak semakin meluas dan memperparah krisis pangan global.