Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Kuba. Kali ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mengajak warga Kuba yang menginginkan perubahan untuk bekerja sama dengan CIA guna mengakhiri pemerintahan komunis di pulau tersebut.
Dalam unggahannya di platform X, Rubio menyebut situasi di Kuba dipenuhi janji-janji gagal, korupsi, dan gaya hidup mewah segelintir orang. Ia mendorong masyarakat memanfaatkan kesempatan ini untuk menciptakan perubahan melalui kemitraan rahasia dengan badan intelijen AS tersebut.
Ajakan ini langsung ditepis pejabat Kuba. Wakil Menteri Luar Negeri Carlos Fernandez de Cossio menyindir keras langkah Washington tersebut. Menurutnya, rekrutmen terbuka seperti ini menunjukkan tingkat keputusasaan luar biasa di dalam CIA, yang sampai harus menjual jasanya seperti tabung pasta gigi.
Ketegangan ini bukanlah hal baru. Beberapa waktu lalu, Fernandez de Cossio sudah memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer AS terhadap Kuba merupakan kejahatan internasional yang keji. Sebagai tindak lanjut, CIA juga mengunggah video berbahasa Spanyol berisi instruksi bagi warga yang ingin memberikan informasi, dengan menyarankan mereka mendatangi kedutaan besar AS secara langsung.
Eskalasi ini terjadi di tengah blokade minyak yang diberlakukan AS sejak awal tahun. Kebijakan tersebut memukul warga sipil Kuba dengan kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik yang diperparah infrastruktur rusak. Para ahli hak asasi manusia PBB mengecam blokade ini sebagai pelanggaran hukum internasional. Washington sendiri telah memberlakukan embargo terhadap Kuba selama lebih dari 60 tahun, dan tekanan semakin memanas setelah operasi militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu.