Jakarta - Kabar mengejutkan datang dari dunia golf profesional. Mantan petenis nomor satu dunia, Jon Rahm, resmi menyatakan mundur dari LIV Golf. Keputusan ini diambil sang juara dua kali major tersebut setelah menilai syarat-syarat baru yang diajukan liga, yang disebut sebagai 'LIV 2.0', tidak dapat diterima.
Pengacara Rahm, John Beck, mengungkapkan dalam sidang kepailitan bahwa kliennya telah meninjau proposal tersebut secara independen dan memutuskan untuk tidak melanjutkan partisipasi. "Tuan Rahm telah meninjau ketentuan LIV 2.0 dan menilai bahwa ketentuan tersebut tidak dapat diterima baginya," ujar Beck di hadapan pengadilan.
Kepergian Rahm menjadi pukulan telak bagi LIV Golf yang saat ini tengah berjuang keluar dari proses kebangkrutan (Chapter 11). Sebelumnya, sejumlah pegolf top lain seperti Bryson DeChambeau, Cameron Smith, dan Sergio Garcia juga meminta hakim untuk memutus kontrak mereka karena gaji yang belum dibayarkan. Garcia bahkan telah mencapai kesepakatan untuk pemutusan kontraknya.
Meski tengah goyah, LIV Golf dilaporkan telah mengamankan pendanaan darurat hingga 300 juta dolar AS dari BC Partners. Dana segar ini diharapkan dapat menopang operasional liga dan memperkuat fondasi keuangan mereka sebelum musim 2027, di mana para pemain dijanjikan kepemilikan saham atas liga dan tim.
Analisis Dampak: Mundurnya Rahm, yang memiliki klaim utang terbesar mencapai 7,5 juta dolar AS, memicu spekulasi bahwa LIV Golf kehilangan daya tariknya bagi para bintang. Bagi masyarakat penggemar golf, ini menandakan ketidakpastian jadwal turnamen dan masa depan liga. Jika liga ini bubar atau direstrukturisasi total, para penggemar mungkin akan melihat kembalinya para bintang ini ke turnamen konvensional seperti PGA Tour, yang bisa memulihkan 'normalitas' kompetisi golf global.