Insiden dugaan serangan siber baru-baru ini dilaporkan melumpuhkan sistem pendingin alias kulkas dan freezer di sejumlah supermarket di Eropa. Kejadian ini sontak memunculkan kekhawatiran baru soal celah keamanan perangkat rumah tangga pintar yang terhubung ke internet.
Perangkat 'Internet of Things' (IoT) seperti kulkas, mesin cuci, hingga pemanas ruangan memang memudahkan kontrol jarak jauh. Namun, sifatnya yang selalu online membuat perangkat ini rentan dieksploitasi oleh aktor jahat. Meski begitu, bukan berarti hacker bisa dengan mudah mengambil alih kendali. Produsen besar biasanya menerapkan standar keamanan ketat untuk memproteksi produk mereka.
Meski belum ada bukti bahwa kulkas rumah tangga menjadi target utama dalam insiden November lalu, para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan. Ciaran Martin, mantan CEO National Cyber Security Centre (NCSC) Inggris, menyarankan konsumen untuk rajin memperbarui perangkat dan mengaktifkan autentikasi multi-faktor. "Saya tahu ini merepotkan, tapi hanya butuh beberapa detik," ujarnya.
Regulasi di Inggris sendiri telah mewajibkan standar keamanan siber minimum untuk perangkat pintar sejak April 2024. Namun, riset dari UK Cyber Defence menemukan lebih dari 800 antarmuka pendingin dan kontrol bangunan yang terkait dengan peritel Inggris dapat diakses melalui internet publik. Ini membuka risiko eksploitasi jika password lemah atau ada celah software.
Dampak serangan siber pada rantai makanan bukanlah hal baru. Pada Mei 2025, serangan ransomware terhadap M&S dan Co-op menyebabkan rak-rak supermarket kosong karena gangguan pasokan. Helen Dickinson dari British Retail Consortium menegaskan bahwa insiden siber adalah kekhawatiran utama, dan industri terus berupaya memperkuat pertahanan bersama NCSC.