IDULFITRI TERENGGUT: PERANG DAN KRISIS HANTUI GAZA, IRAN, LEBANON - Berita Dunia
← Kembali

IDULFITRI TERENGGUT: PERANG DAN KRISIS HANTUI GAZA, IRAN, LEBANON

Foto Berita

Perayaan Idulfitri tahun ini terasa berbeda, bahkan mungkin tidak ada sama sekali, bagi jutaan warga di Lebanon, Iran, dan Jalur Gaza. Bukan euforia kemenangan, melainkan bayang-bayang konflik bersenjata dan krisis ekonomi mendalam yang menghantui mereka, merenggut makna kebahagiaan hari raya.

Di Lebanon, suasana duka menyelimuti. Lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka akibat serangan Israel yang terus-menerus. Banyak yang kini harus mendirikan tenda-tenda darurat di kawasan yang dulunya dikenal elit, seperti tepi pantai pusat kota Beirut. Bagi pengungsi seperti Alaa, seorang warga Suriah dari Dataran Tinggi Golan yang kini tunawisma di Beirut, Idulfitri tak lagi penting. Prioritas utamanya hanyalah mencari tempat aman dan selembar tenda untuk berteduh, jauh dari hingar-bingar perayaan. Konflik yang berlarut-larut sejak Oktober 2023, ditambah serangan baru, membuat warga Lebanon tak tahu kapan penderitaan ini akan berakhir.

Situasi tak kalah sulit dialami warga Iran. Negeri ini sudah memasuki minggu ketiga serangan yang melibatkan AS dan Israel, memperparah krisis ekonomi yang memang sudah mendera jauh sebelum konflik memanas. Alih-alih berbelanja kebutuhan hari raya, warga kini kesulitan sekadar membeli bahan pokok. Bahkan, pasar-pasar besar seperti Grand Bazaar di Teheran, yang rusak akibat pengeboman, menjadi lokasi berbahaya. Ada pula dimensi politis: bagi sebagian warga anti-pemerintah, merayakan Idulfitri bisa diartikan mendukung rezim. Mereka justru lebih memilih fokus pada Nowruz, Tahun Baru Persia, yang kebetulan jatuh di hari yang sama.

Di Jalur Gaza, perayaan Idulfitri nyaris tak berjejak. Warga Palestina di sana berjuang menghadapi krisis ekonomi parah yang merupakan dampak langsung dari perang yang dilancarkan Israel. Pembatasan pasokan barang, yang makin diperketat setelah konflik dengan Iran merebak, membuat harga melambung tinggi, bahkan untuk mainan anak-anak. Seperti diungkapkan Khaled Deeb, 62 tahun, seorang warga Gaza City yang rumahnya sebagian hancur, pasar memang terlihat ramai, tapi kondisi keuangan sangat buruk. Mereka mencoba mencari suasana, namun dompet tak mendukung. Ketiga wilayah ini, dengan tantangan masing-masing, menunjukkan gambaran suram: perayaan yang seharusnya menjadi momen kebersamaan dan kegembiraan, kini beralih menjadi perjuangan keras untuk bertahan hidup di tengah bayang-bayang konflik dan krisis ekonomi yang seolah tanpa akhir.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook