Konflik di Timur Tengah terus memanas, memasuki hari keempat serangan intensif antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang dibalas Teheran di berbagai wilayah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim pasukannya telah menghancurkan fasilitas komando dan kontrol Garda Revolusi Iran (IRGC), instalasi pertahanan udara, serta lokasi peluncuran rudal dan drone. Sementara itu, ledakan dilaporkan bergema di ibu kota Iran, Teheran, saat Angkatan Udara Israel menargetkan sistem pertahanan udara dan platform peluncur rudal balistik Iran.
Namun, eskalasi konflik tak hanya terbatas di Iran. Militer Israel juga melancarkan serangan serentak terhadap ibu kota Lebanon, Beirut, menargetkan posisi yang diduga milik Hizbullah. Serangan udara Israel sebelumnya di Lebanon selatan bahkan menewaskan sedikitnya 52 orang dan melukai 154 lainnya. Sebagai balasan, Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan drone ke Pangkalan Udara Ramat David di Israel utara.
Pertumpahan darah ini juga memakan korban di kedua belah pihak. CENTCOM mengonfirmasi enam personel militernya tewas dalam serangan balasan Iran di Kuwait, di mana ironisnya tiga jet tempur AS sempat tak sengaja ditembak jatuh oleh Kuwait sendiri. Dari sisi Iran, lima anggota angkatan udara dan laut IRGC dilaporkan tewas akibat serangan AS-Israel.
Dengan situasi yang makin memburuk, Washington mengisyaratkan perang ini bisa berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal mereka yang empat hingga lima minggu, meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas kawasan. Lebih lanjut, para pejabat PBB telah menyuarakan keprihatinan serius mengenai dampak terhadap anak-anak dan warga sipil, menyusul serangan yang menyasar infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Ini menandakan bahwa konflik yang meluas ini bukan hanya pertarungan militer, melainkan ancaman nyata terhadap kemanusiaan dan perdamaian global.