PBB angkat bicara soal situasi mencekam di Hebron, Tepi Barat. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyuarakan keprihatinan mendalam atas operasi militer Israel yang telah memasuki hari keenam. Akibatnya, hampir 5.000 warga Palestina terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Direktur UNRWA untuk Tepi Barat, Roland Friedrich, menyebut penutupan wilayah secara total ini sangat membatasi kebebasan bergerak warga. Akses mereka ke layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan pun ikut terhambat. PBB menilai langkah ini sebagai bentuk 'hukuman kolektif' yang melanggar hukum internasional.
Yang bikin miris, situasi ini disebut-sebut mirip dengan operasi militer besar-besaran 'Iron Wall' di awal 2025 lalu. Saat itu, lebih dari 34.000 pengungsi dari kamp Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams masih belum bisa kembali ke rumah mereka hingga kini.
Operasi Israel di Hebron ini dipicu oleh tewasnya dua tentara Israel dalam serangan di pos pemeriksaan pekan lalu. Namun, pejabat Palestina menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sengaja memperpanjang konflik untuk meraup suara dari kelompok pemukim jelang pemilu Israel hari Selasa mendatang.
Di tengah ketegangan ini, gelombang razia terus berlanjut. Pasukan Israel dilaporkan menangkap empat warga Palestina di Tulkarem, termasuk seorang jurnalis. Di Nablus, sekolah-sekolah terpaksa dialihkan ke sistem pembelajaran jarak jauh demi keselamatan siswa dan staf. Warga di kamp Fawwar dan desa Burin juga mengalami penggeledahan rumah hingga ada yang dijadikan barak militer.