Gelombang protes pelajar di Prancis yang menuntut perbaikan sistem pendidikan justru berujung pada kekerasan yang memprihatinkan. Sejumlah siswa di bawah umur menjadi korban dugaan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat kepolisian, memicu kemarahan publik dan memperlebar jurang kepercayaan antara generasi muda dan negara.
Insiden memilukan terjadi pada Enzo (17), yang harus dirawat di rumah sakit akibat kepalanya berlumuran darah usai dipukul tongkat polisi dari belakang. Nasib nahas juga menimpa Eden (14), yang rahangnya hancur setelah polisi menembakkan granat gas air mata ke arah wajahnya dari jarak dekat. Sementara itu, Mael (16) kehilangan penglihatan pada mata kanannya akibat tembakan peluru karet. Video amatir yang beredar memperlihatkan polisi membubarkan kerumunan damai dengan gas merica dan pemukulan, meski pihak berwenang membantah melakukan represi dan mengklaim tindakan mereka sebagai upaya pengamanan.
Analisis dampak sosial menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak di bawah umur ini berpotensi menciptakan trauma kolektif. Pengacara dan pengamat menilai strategi represif ini bukan hanya melukai fisik, tetapi juga merusak psikologis generasi muda, membuat mereka menjauh dari ruang publik dan demokrasi. Alih-alih meredakan ketegangan, tindakan keras ini dikhawatirkan akan memicu resistensi yang lebih besar dan mengisolasi pemerintah dari rakyatnya sendiri.