Mantan pejabat pemerintahan Donald Trump, Christian Whiton, menyerukan agar Amerika Serikat segera melakukan 'reset' besar-besaran dalam hubungan luar negerinya. Whiton menilai, Presiden Trump menyadari bahwa 'tatanan internasional berbasis aturan' yang selama ini digaungkan sesungguhnya tak pernah ada, dan ia tak ragu untuk membelakangi konsep tersebut. Pandangan ini, jika diikuti, berpotensi mengubah lanskap geopolitik global secara drastis.
Berbicara kepada Steve Clemons, Whiton menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri AS sejatinya cukup stabil selama 80 tahun terakhir. Namun, Trump justru senang mengusik para 'globalis' dan kemapanan di Washington, termasuk dari kedua partai besar, Republik maupun Demokrat, serta para jenderal yang mungkin punya pandangan berbeda.
Di kawasan Eropa, Amerika Serikat, kata Whiton, mengharapkan kemunculan lebih banyak pemerintahan populis yang anti-imigrasi. Lebih lanjut, ia juga mendorong masyarakat Barat untuk membuang jauh-jauh anggapan bahwa mereka secara inheren rasis, patriarki, atau memiliki sejarah imperialis yang rasis, sebuah narasi yang menurutnya perlu dikaji ulang.
Analisis singkatnya, jika AS benar-benar mengimplementasikan visi ini, dampaknya bisa sangat luas. Hubungan dengan sekutu tradisional yang selama ini terikat pada tatanan multilateral mungkin tegang, bahkan bergeser drastis. Ini juga bisa menjadi legitimasi bagi gerakan-gerakan sayap kanan atau nasionalis di berbagai belahan dunia, yang berpotensi memicu ketidakpastian global dan tantangan baru bagi kerja sama internasional.