Jakarta ā Industri saos pedas khas Karibia, yang populer di pasar global seperti Amerika Serikat dan Eropa, tengah menghadapi krisis pasokan bahan baku. Produsen kesulitan mendapatkan cabai Scotch Bonnet, varian cabai pedas yang menjadi bahan utama saos tersebut.
Bencana alam dan perubahan iklim menjadi biang keladinya. Badai dahsyat bernama Hurricane Melissa yang menerjang Jamaika pada Oktober laluādisebut sebagai badai terkuat dalam sejarah negara ituāmenghancurkan sektor pertanian. Padahal, Jamaika adalah salah satu produsen utama cabai Scotch Bonnet. Sebelumnya, Hurricane Beryl pada tahun sebelumnya juga sudah meluluhlantakkan lahan pertanian setempat.
Akibatnya, banyak petani beralih menanam ubi jalar yang lebih tahan cuaca dan memiliki harga jual lebih stabil. "Setelah Badai Beryl, banyak petani beralih ke ubi jalar karena lebih kuat dan harga per kilonya lebih baik," ujar Sean Garbutt, dari Associated Manufacturers, perusahaan yang memproduksi saos Walkerswood. Ia menambahkan, cuaca ekstrem juga memengaruhi rasa pedas cabai. "Kami mungkin mendapat telepon dari pelanggan yang bilang saosnya tidak sepicas biasanya. Itu karena terlalu banyak hujan," jelasnya.
Dampaknya langsung terasa. Perusahaan terpaksa membatalkan pesanan karena pasokan terbatas. Padahal, permintaan global terus meningkat. Saos pedas Karibia kini sudah tersedia di jaringan supermarket raksasa seperti Walmart (AS), Tesco (Inggris), hingga Woolworths (Australia). Bagi masyarakat Karibia, saos pedas bukan sekadar bumbu, melainkan identitas budaya yang wajib ada di meja makan.