Paris, Prancis – Proyek ambisius pesawat tempur generasi keenam Eropa, Future Combat Air System (FCAS), resmi dihentikan. Keputusan ini diumumkan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada pekan ini setelah perseteruan sengit antara raksasa industri pertahanan, Dassault Aviation (Prancis) dan Airbus (Jerman/Spanyol), soal siapa yang memegang kendali utama proyek.
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi upaya Eropa membangun kemandirian pertahanan (strategic autonomy) di tengah ketidakpastian dukungan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Trump dikenal getol mengkritik negara-negara NATO yang dianggapnya 'nitip' keamanan pada AS. Ia bahkan sempat mengancam akan mengambil alih Greenland dan menarik dukungan militer untuk Ukraina.
Belum lagi, penolakan Eropa untuk ikut serta dalam perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu, semakin memperlebar keretakan hubungan transatlantik. Situasi ini dikhawatirkan membuat Eropa rentan terhadap tekanan Rusia.
Meski proyek andalan itu bubar, analis melihat belum semuanya gelap. Menurut Giuseppe Spatafora, analis kebijakan dari European Union, kunci kemandirian Eropa bukan hanya pada proyek jet tempur semata, melainkan pada integrasi militer yang lebih dalam di antara negara-negara anggotanya. "Ini soal menyatukan kepentingan nasional dengan tujuan pertahanan bersama, bukan hanya ambisi politik," ujarnya.
Dampak dan Konteks: Runtuhnya FCAS memperlihatkan bahwa ego industri dan perbedaan kepentingan nasional masih menjadi batu sandungan terbesar bagi persatuan Eropa. Di saat yang sama, sikap AS yang mulai 'menjauh' dari NATO memaksa Eropa untuk segera mencari solusi nyata. Tanpa proyek jet tempur bersama, negara-negara Eropa mungkin akan kembali bergantung pada pesawat AS seperti F-35, yang justru membuat mereka semakin tidak mandiri.