Southampton, Inggris — Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, mengecam keras aksi kerusuhan bernuansa rasial yang meletus di Southampton, Selasa malam (18/3/2025). Kerusuhan ini dipicu oleh kasus pembunuhan Henry Nowak (18) yang malah diborgol polisi saat sekarat, setelah pelaku justru mengaku sebagai korban serangan rasis.
Kericuhan terjadi setelah pengadilan menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada Vickrum Digwa (23), seorang pemuda Sikh Inggris, yang terbukti menusuk Nowak lima kali hingga tewas pada Desember lalu. Digwa kemudian berbohong dengan mengaku sebagai korban serangan rasis, membuat polisi awalnya menangani Nowak sebagai tersangka.
Rekaman bodycam yang dirilis kepolisian menunjukkan petugas tidak menganggap serius pernyataan Nowak bahwa ia telah ditusuk dan kesulitan bernapas. Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan dirinya muak dengan rekaman tersebut dan mempertanyakan bagaimana 'tuduhan rasisme memengaruhi pengambilan keputusan dalam kasus ini.'
Kerusuhan dipicu oleh klaim dari politisi sayap kanan dan aktivis yang menuduh Inggris menerapkan 'two-tier policing' atau sistem peradilan ganda yang merugikan warga kulit putih. Dalam kerusuhan tersebut, massa melempar kursi, kaleng, batu, dan suar ke arah polisi. Dua orang ditangkap, sementara 11 petugas dan seekor anjing polisi dilaporkan terluka.
Ayah korban, Mark Nowak, mengkritik perlakuan 'tidak manusiawi' polisi terhadap putranya, namun ia memohon agar kematian Henry tidak digunakan untuk menciptakan perpecahan. 'Kami ingin kisahnya membantu membuat jalanan lebih aman bagi semua orang,' ujarnya.
Analisis: Kasus ini membuka luka lama tentang diskriminasi sistemik dan kepercayaan publik terhadap kepolisian Inggris. Di satu sisi, ada kemarahan sah atas kesalahan prosedur polisi yang merenggut kesempatan hidup seorang remaja. Di sisi lain, politisi sayap kanan memanfaatkan tragedi ini untuk mengobarkan sentimen anti-imigran dan anti-minoritas. Reaksi publik yang terbelah menunjukkan bahwa Inggris sedang menghadapi krisis kepercayaan yang serius terhadap institusi penegak hukum, di mana isu rasisme dan kelas sosial menjadi bara yang siap menyala.