Di tengah puing dan derita tak berkesudahan di Gaza, sebuah kisah pilu dan kebesaran hati muncul dari Maha al-Rubaie. Di usianya yang ke-56, ia kini berstatus "Mama" bagi Hamza, seorang bayi yang harus kehilangan seluruh keluarga intinya akibat perang. Kisah ini bukan sekadar tentang merawat bayi, melainkan cerminan dampak brutal konflik yang melucuti harapan dan kehidupan.
Maha, seorang wanita yang tak pernah menyangka akan menjadi ibu di usia senja, kini menjaga Hamza dengan penuh kasih sayang di sebuah bekas ruang kelas yang lembap. Raut wajah Hamza yang polos, dengan mata lebar dan senyumnya saat memanggil "Mama", seolah menjadi oase di tengah gurun kepedihan. Maha bukanlah orang baru dalam menghadapi kehilangan. Ia sendiri membesarkan ayah Hamza, Omar al-Rubaie, sejak Omar berusia 15 tahun setelah ayahnya tewas dalam perang Gaza tahun 2008. Kini, sejarah tragis itu terulang pada putra Omar, Hamza.
Kehilangan Hamza dimulai pada 18 Maret 2024. Saat Maha dan ibu Hamza, Diana, menyiapkan hidangan sahur, sebuah bom Israel menghantam rumah lima lantai mereka di Gaza City. Debu hitam, puing, dan pecahan bom memenuhi udara. Diana dan Omar, orang tua Hamza, lari ke lantai atas, hanya untuk menemukan ketiga anak mereka – Dima (8), Anas (6), dan Mohammed (3) – bersama paman dan sepupu mereka, sudah terkubur di bawah reruntuhan, tanpa suara, tanpa gerakan. Mereka seolah hancur lebur oleh duka.
Beberapa bulan kemudian, di tengah kelaparan akut yang diakibatkan oleh blokade Israel, Diana kembali mengandung. Kabar kehamilan ini, meski diwarnai tangis histeris antara duka dan harapan, sempat membawa secercah kebahagiaan. Mereka mulai membeli pakaian bayi, bermimpi tentang keluarga yang utuh kembali. Namun, takdir berkata lain. Pada 4 September 2025, saat Diana hamil sembilan bulan, tenda tempat ia dan Omar tinggal dibom. Diana dan Omar dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi sekarat. Atas permohonan saudari Diana, operasi caesar darurat dilakukan di koridor rumah sakit, beberapa saat setelah Diana menghembuskan napas terakhir. Hamza berhasil diselamatkan, namun terlahir sebagai yatim piatu sebatang kara.
Kisah Hamza dan Maha adalah potret nyata kehancuran total yang dialami warga Gaza, khususnya anak-anak yang paling rentan. Berulang kali kehilangan anggota keluarga inti, bahkan sebelum sempat mengenal orang tuanya, menjadi bukti betapa kejamnya siklus kekerasan ini. Situasi ini diperparah dengan krisis kemanusiaan yang akut, termasuk kelaparan yang meluas akibat blokade. Data PBB menunjukkan, ribuan anak di Gaza tewas atau kehilangan orang tua, menjadi yatim piatu akibat konflik yang tiada henti. Kisah Maha juga menyoroti peran heroik keluarga dalam merawat yang tersisa, menjadi tulang punggung di tengah reruntuhan. Ini bukan sekadar berita, ini adalah seruan tentang harga mahal sebuah konflik yang terus menelan generasi tak berdosa.