WARGA DUNIA BORONG SUSU KALENG HINGGA RADIO ENGKOL - Berita Dunia
← Kembali

WARGA DUNIA BORONG SUSU KALENG HINGGA RADIO ENGKOL

Foto Berita

Gelombang kesiapsiagaan darurat kini melanda berbagai negara, dipicu oleh imbauan resmi pemerintah soal persediaan menghadapi krisis. Di Inggris, penjualan makanan kaleng, radio, dan senter melonjak tajam setelah pemerintah menyarankan rumah tangga menyiapkan stok darurat. Fenomena ini bukan hal baru di banyak wilayah lain yang akrab dengan cuaca ekstrem, bencana alam, atau ketegangan geopolitik.

Di Swedia, pemerintah mengirim booklet ke setiap rumah yang memuat panduan stok pangan dan tindakan saat krisis atau perang. Andreas Wennerberg (30), warga Stockholm, mulai menyiapkan persediaan di basement usai menerima booklet itu dua tahun lalu. Ia menyimpan radio engkol, tandon air 10 liter, dan uang tunai sekitar €200. Meski mengaku belum sepenuhnya mengikuti panduan, ia merasa cukup aman.

Cerita berbeda datang dari Dan C (38), fisioterapis di Maryland, AS. Sejak menjadi ayah, ia menggelontorkan sekitar US$6.000 untuk membangun stok darurat di rak basement. Pengalaman rumahnya terputus listrik selama dua hari saat cuaca dingin ekstrem membuatnya sadar banyak celah dalam persiapannya. Kini ia menyimpan 150 galon air, tablet klorin dioksida untuk menjernihkan air, serta pantry berputar berisi oat, quinoa, dan selai kacang untuk kebutuhan tiga bulan keluarganya. Ia juga menyiapkan panel surya, kompor kemah, tenda, dan perapian propana yang bisa beroperasi tanpa listrik.

Di Tokyo, Ayumi T telah menyimpan tas darurat selama bertahun-tahun untuk menghadapi gempa bumi, topan, dan cuaca panas ekstrem. Langkah ini diperkuat setelah gempa pada 2024. Otoritas AS melalui FEMA menyarankan warga menyusun kit darurat, membuat rencana keluarga, dan memahami prosedur respons insiden.

Analisis Dampak: Tren ini menunjukkan pergeseran pola pikir masyarakat dari reaktif menjadi preventif terhadap risiko krisis. Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di zona rawan gempa dan bencana hidrometeorologi, model kesiapsiagaan seperti ini relevan untuk diadopsi. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua rumah tangga mampu mengalokasikan ribuan dolar untuk stok darurat. Pemerintah dan media lain menekankan pentingnya edukasi kesiapsiagaan berbasis kemampuan ekonomi, bukan sekadar panic buying yang memicu kelangkaan barang di pasaran.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook