Kyiv, Al Jazeera — Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesiapannya untuk menggelar perundingan trilateral bersama Amerika Serikat dan Rusia pada akhir bulan ini. Pernyataan tersebut disampaikan Zelenskyy dalam konferensi pers di Kyiv, Minggu, didampingi Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Menurut Zelenskyy, Ukraina mendukung percepatan jadwal kembali ke meja perundingan guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun. Ia mengaku telah mengonfirmasi kesiapan Kyiv kepada pihak AS, dan terbuka jika pertemuan digelar di Uni Emirat Arab (UEA) atau negara lain yang diusulkan Washington.
Upaya AS untuk menengahi gencatan senjata sempat terhenti sejak Washington melancarkan perang terhadap Iran. Namun kini, AS kembali mendorong perundingan tingkat teknis sebelum akhir Oktober. Kremlin sebelumnya juga tidak menutup kemungkinan adanya pembicaraan tiga arah bulan ini.
Meski sinyal dialog mulai terbuka, kedua pihak tetap bersiap meningkatkan serangan jarak jauh. Moskow dikabarkan menyasar sektor energi Ukraina menjelang musim dingin — pola yang sama seperti tahun lalu, ketika serangan serupa melumpuhkan listrik dan pemanas selama berhari-hari saat suhu anjlok hingga minus 20 derajat Celsius.
Zelenskyy mengaku terkejut dengan "hasrat biadab Rusia untuk terus mengeskalasi situasi setiap hari", dan menuduh Moskow menyasar infrastruktur sipil, termasuk pusat data dan fasilitas jaringan seluler.
Sementara itu, India menyatakan akan meningkatkan perannya sebagai mediator. Menlu Subrahmanyam Jaishankar, berbicara di Konferensi Keamanan Munich di New Delhi, menyebut negaranya semakin terlibat dalam beberapa bulan terakhir, khususnya terkait pelayaran di Laut Hitam yang terganggu ranjau dan serangan terhadap kapal komersial. India juga membahas ekspor gandum dan energi serta "kemungkinan non-serangan".