JAKARTA - Afrika Selatan resmi menunjuk Durban sebagai kota tuan rumah untuk pencalonan Olimpiade 2036 dan 2040. Langkah ini menjadi upaya bersejarah Benua Afrika untuk pertama kalinya menggelar pesta olahraga terbesar dunia tersebut.
Pengumuman ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Presiden Konfederasi Olahraga dan Komite Olimpiade Paralimpiade Afrika Selatan (SASCOC), Lwandile Simelane, pada Kamis (14/11). Durban, yang merupakan kota terbesar ketiga di negara itu, akan menjadi kandidat utama. Namun, Simelane menyebut pihaknya kemungkinan besar akan mengusung konsep "multi-kota", di mana sejumlah acara bisa digelar di wilayah lain seperti Johannesburg atau Cape Town.
Durban sendiri bukan nama baru dalam peta tuan rumah event besar. Kota berpenduduk sekitar 4 juta jiwa di pesisir Samudra Hindia itu sempat digadang-gadang menjadi tuan rumah Olimpiade setelah sukses menggelar Piala Dunia 2010. Sayangnya, saat itu rencana tersebut gagal terwujud karena kendala biaya. Durban bahkan sempat dicoret sebagai tuan rumah Commonwealth Games 2022 lantaran tidak mampu memberikan jaminan finansial.
Meski begitu, optimisme kembali dibangun. Basis utama pencalonan ini adalah Stadion Moses Mabhida berkapasitas 56.000 kursi, sisa infrastruktur Piala Dunia 2010 silam. Hingga saat ini, pihak berwenang belum bisa membeberkan estimasi biaya yang dibutuhkan, namun mereka menegaskan komitmen untuk mencoba peruntungan lagi.
Persaingan menuju Olimpiade 2036 dipastikan sengit. Afrika Selatan harus bersaing dengan enam negara lain, yakni India, Qatar, Korea Selatan, Jerman, Hungaria, dan Turkiye. Komite Olimpiade Internasional (IOC) menetapkan batas waktu pendaftaran minat pada 31 Oktober, dengan daftar kandidat resmi akan disetujui pada Maret mendatang. Jika berhasil, Afrika Selatan akan mencatat sejarah sebagai negara Afrika pertama yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas sejak era modern dimulai pada 1896.
Analisis Dampak: Pencalonan ini menjadi ujian kredibilitas bagi Afrika Selatan setelah kegagalan sebelumnya. Bagi masyarakat, jika terwujud, ini akan menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan infrastruktur olahraga di Benua Afrika. Namun, tantangan terbesarnya tetap pada pembuktian stabilitas finansial dan kesiapan fasilitas, mengingat rekam jejak pembatalan event sebelumnya masih menjadi bayang-bayang. Sementara itu, gelaran Olimpiade Pemuda di Dakar, Senegal, akhir pekan ini menjadi pemanasan penting bagi Afrika untuk membuktikan kemampuan mereka menggelar event kelas dunia.