ATURAN BARU IOC: MAKIN SULIT BAGI ATLET TRANSGENDER? - Berita Dunia
← Kembali

ATURAN BARU IOC: MAKIN SULIT BAGI ATLET TRANSGENDER?

Foto Berita

Dunia olahraga segera punya aturan baku soal partisipasi atlet transgender. Komite Olimpiade Internasional (IOC) dikabarkan bakal segera merilis kebijakan baru yang disebut-sebut bakal lebih ketat, terutama bagi mereka yang pernah menjalani pubertas laki-laki sebelum transisi medis, demi melindungi kategori wanita.

Kebijakan seragam ini rencananya diumumkan dalam paruh pertama tahun ini, menandai pertama kalinya IOC dan federasi olahraga internasional memiliki satu kriteria yang sama. Selama ini, setiap federasi memiliki aturan yang bervariasi, menciptakan kebingungan dan inkonsistensi. "Melindungi kategori wanita adalah salah satu reformasi utama yang ingin dibawa," kata juru bicara IOC, Mark Adams.

Presiden wanita pertama IOC, Kirsty Coventry, memimpin inisiatif penting ini sejak Juni lalu dengan membentuk gugus kerja 'Protection of the Female Category'. Gugus kerja ini terdiri dari para ahli dan perwakilan federasi internasional untuk mencari cara terbaik melindungi kategori wanita dalam olahraga.

Pembatasan ini diperkirakan akan berdampak signifikan. Contoh konkretnya sudah terlihat di beberapa cabang. World Aquatics, misalnya, mengizinkan atlet transgender berkompetisi jika transisi sebelum usia 12 tahun, sementara World Rugby justru melarang semua atlet transgender di level elite. Di sisi lain, isu ini juga merambah dunia politik, di mana mantan Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan larangan serupa di tingkat sekolah, kampus, dan profesional di negaranya, bahkan mengancam tidak akan mengizinkan atlet transgender di Olimpiade LA 2028.

Meski hanya segelintir atlet transgender terbuka yang pernah berlaga di Olimpiade (misalnya, Laurel Hubbard di Tokyo 2021), kebijakan baru ini mencerminkan pergeseran pandangan dan menjadi upaya IOC untuk menemukan keseimbangan antara inklusivitas dan keadilan kompetisi. Langkah ini tentu akan memicu perdebatan luas, menyoroti kompleksitas identitas gender dalam kancah olahraga global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook