Stuttgart, Jerman – Kanselir Jerman, Friedrich Merz, tengah menghadapi tekanan politik yang sangat berat setelah partainya, Christian Democratic Union (CDU), mengalami kekalahan berturut-turut dalam tiga pemilihan negara bagian. Situasi ini diperparah dengan merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya ke titik terendah sepanjang sejarah.
Berdasarkan survei terbaru dari penyiar publik Jerman, ARD, hanya satu dari sepuluh responden yang merasa puas dengan kepemimpinan Merz. Angka ini mencatatkan rekor terendah untuk seorang kanselir sejak survei tersebut dimulai pada tahun 1997. Puncak dari krisis ini terjadi di negara bagian Mecklenburg-Western Pomerania, di mana CDU gagal menembus ambang batas 5 persen untuk pertama kalinya sejak berdirinya Republik Federal Jerman pada 1949. Sebaliknya, partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) justru mendominasi dengan meraih lebih dari sepertiga suara.
Kekalahan tidak berhenti di situ. Di pemilihan negara bagian Berlin, CDU harus puas berada di posisi kedua di bawah Partai Kiri (The Left) yang meraih 25,7 persen suara. Dua minggu sebelumnya, CDU juga telah kalah telak di Saxony-Anhalt, di mana AfD meraup lebih dari 40 persen suara berbanding 17 persen milik CDU.
Meskipun tekanan untuk mundur semakin besar, posisi Merz sebagai kanselir relatif aman secara konstitusional. Hukum Jerman mensyaratkan Bundestag hanya dapat mengganti kanselir jika mereka secara bersamaan memilih penggantinya dengan mayoritas absolut. Profesor ilmu politik Wolfgang Schroeder menilai bahwa CDU saat ini terjebak dalam kebuntuan; mereka merasa tidak bisa maju bersama Merz, tetapi juga tidak memiliki alternatif pengganti yang menarik.
Kritik terhadap Merz juga mencuat terkait pernyataannya soal "Stadtbild" atau lanskap kota, yang dianggap sebagai sindiran terhadap banyaknya pengungsi dan migran di jalanan. Isu ini kembali mencuat di kalangan elite CDU setelah hasil pemilu yang buruk, menambah kompleksitas tantangan yang dihadapi kanselir yang baru menjabat sejak Mei 2025 tersebut.