Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menangguhkan sanksi terhadap Rusia dan negara-negara pembeli minyaknya memicu kemarahan lintas partai di Kongres. Lewat perintah eksekutif yang diteken Jumat lalu, Trump beralasan kebijakan ini demi kepentingan nasional AS, tanpa menyebut kapan sanksi akan diberlakukan.
Padahal, aturan yang dinamai UU Graham itu sudah disahkan Trump bulan lalu dengan dukungan telak Senat (86-11). Undang-undang ini seharusnya memungkinkan pengenaan tarif hingga 100 persen bagi negara mana pun yang masih membeli minyak dan gas Rusia atau membantu Moskow menghindari sanksi.
Senator Republik Thom Tillis menyebut keputusan ini "sangat tidak bertanggung jawab" dan menuduh pemerintahan Trump menyerah pada Presiden Rusia Vladimir Putin. Rekan separtainya, John Cornyn, yakin mendiang Senator Lindsey Graham—penggagas UU tersebut—akan "sangat kecewa". Dari kubu Demokrat, Elizabeth Warren menuding Trump "mengacungkan jari tengah" ke Kongres dan membiarkan Putin melanjutkan perangnya di Ukraina.
Kritik juga datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia menegaskan bahwa melunakkan tekanan pada Rusia hanya akan memicu serangan lebih lanjut. "Imbalan finansial untuk Putin—semua ini hanya mendorongnya terus menyerang," tulis Zelenskyy di platform X.
Menariknya, keputusan ini muncul tak lama setelah Trump menyetujui kesepakatan pembelian diesel Rusia demi menekan harga bahan bakar yang melonjak akibat konflik AS-Israel dengan Iran. Langkah ini pun dipertanyakan banyak pihak: apakah benar-benar menurunkan biaya energi, atau justru mengisi kas Moskow untuk membiayai perang?
Dampaknya bagi masyarakat global, terutama di Eropa dan negara-negara yang bergantung pada energi murah, keputusan ini bisa memperpanjang ketidakpastian harga minyak. Sementara bagi Ukraina, sinyal lemahnya sanksi dari sekutu utama menjadi pukulan moral dan strategis yang serius. Kongres sendiri sedang reses hingga pemilu sela 3 November, sehingga peluang menantang keputusan Trump secara langsung sangat terbatas untuk saat ini.