Washington, DC - Dukungan terhadap RUU yang melarang pengiriman senjata Amerika Serikat ke Israel terus menguat. Setelah diperkenalkan oleh Anggota Kongres Delia Ramirez pada Juni 2024 dengan hanya 21 pendukung, RUU 'Block the Bombs Act' kini telah menarik 73 sponsor bersama (co-sponsors) di DPR AS. Para aktivis hak asasi manusia menyebut lonjakan ini sebagai kemajuan yang 'bersejarah'.
Dalam konferensi pers di Capitol Hill, Ramirez menegaskan bahwa usulan yang dulu dianggap ekstrem kini mulai menjadi pandangan umum. 'Beberapa orang menganggap RUU ini ekstrem, tapi faktanya, ini sudah menjadi arus utama,' ujarnya. Meskipun 73 suara masih jauh dari mayoritas di DPR yang beranggotakan 435 orang, angka ini dianggap menembus tembok dukungan bipartisan yang selama puluhan tahun dinikmati Israel.
Margaret DeReus, Direktur Eksekutif Institute for Middle East Understanding (IMEU), menekankan pentingnya menandai kemajuan ini. 'Kami datang dari titik yang sangat rendah, di mana Kongres sangat kurang berani melakukan hal yang benar. Jadi ini adalah peningkatan besar,' katanya. Namun, ia mengakui bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh.
Survei terbaru dari Institute for Global Affairs menunjukkan bahwa hanya 16 persen responden yang setuju AS terus memasok senjata ke Israel tanpa batasan baru. Ini mencerminkan pergeseran opini publik Amerika yang semakin kritis terhadap kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah. Ramirez juga mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump karena terus memperluas perang di Iran, invasi ke Lebanon, dan tingginya angka kematian di Gaza.
Sementara itu, Anggota Kongres Rashida Tlaib menambahkan bahwa mempertanyakan dukungan AS untuk Israel bukan lagi hal tabu. 'Rakyat Amerika ingin kita berinvestasi di rumah sendiri, bukan pada kematian dan kehancuran. Mereka ingin air bersih, perumahan, dan layanan anak-anak,' tegas Tlaib. RUU ini masih terhalang oleh pimpinan Partai Republik di DPR dan belum dijadwalkan untuk pemungutan suara.