Serangan udara saling balas antara Ukraina dan Rusia kembali memakan korban jiwa. Setidaknya 14 orang tewas dalam eskalasi konflik yang meluas hingga jauh ke belakang garis depan. Ukraina meluncurkan gelombang drone ke sejumlah wilayah Rusia pada Minggu (16/2) dini hari, menewaskan sembilan orang, termasuk seorang anak perempuan berusia 13 tahun di wilayah Belgorod yang berbatasan langsung dengan Ukraina.
Moskow mengklaim berhasil menembak jatuh 635 drone, namun serangan ini tetap menembus pertahanan dan menghantam target strategis. Di wilayah Udmurtia, tiga orang tewas ketika sebuah mobil mereka dihantam drone. Padahal, lokasi itu berjarak lebih dari 1.300 kilometer dari garis depan. Gubernur setempat, Olga Abramova, menyebut tindakan ini sebagai kebiadaban yang tidak masuk akal karena korban jelas bukan target militer.
Sementara itu, di wilayah Saratov, dua orang tewas ketika sebuah gedung apartemen di kota Engels, yang menjadi pangkalan pembom strategis Rusia, terkena serangan. Ukraina mengaku menargetkan kilang minyak Saratov dan pangkalan udara Engels, yang berhasil memicu kebakaran di kedua fasilitas tersebut. Mereka juga menyerang depot minyak di wilayah Kaluga dan gudang logistik Wildberries di Samara, yang merupakan tulang punggung ekonomi konsumen Rusia.
Di sisi Ukraina, sedikitnya lima orang tewas. Satu orang meninggal ketika bom berpemandu Rusia menghantam gedung residensial di Zaporizhzhia. Serangan lain menewaskan satu orang dan membakar terminal pos di pinggiran Kharkiv. Dua orang tewas di wilayah Dnipropetrovsk dan satu di Kherson akibat serangan artileri Rusia.
Eskalasi ini terjadi di tengah peringatan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tentang krisis pasokan sistem pertahanan udara Patriot. Ia menyebut kekurangan interceptor ini bisa membuat Ukraina rentan terhadap serangan rudal Rusia yang mencapai rekor 376 unit pada Juli lalu, menurut data AFP.