Dunia tinju kembali dihebohkan dengan keputusan besar dari Saul 'Canelo' Alvarez. Petinju asal Meksiko itu memastikan diri tetap melanjutkan pertarungan perebutan gelar juara dunia melawan Christian M'billi di Riyadh, Arab Saudi, pada 31 Oktober mendatang. Keputusan ini diambil meski situasi keamanan di sana sedang memanas akibat serangan udara yang menghantam bandara internasional King Khalid.
Promotor sekaligus Ketua Otoritas Hiburan Umum Arab Saudi, Turki Al-Sheikh, mengungkapkan bahwa Canelo telah menghubunginya secara langsung. Ia menegaskan bahwa petinju berjuluk 'Kepala Merah' itu tidak memiliki rasa takut sedikit pun dan berkomitmen penuh untuk bertarung 'apa pun yang terjadi'. Sikap ini menjadi angin segar bagi para penggemar tinju yang sempat khawatir jadwal pertarungan akan dibatalkan.
Serangan yang diklaim oleh kelompok Houthi dari Yaman tersebut memang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka dalam dua hari terakhir. Serangan pada Sabtu lalu bahkan tercatat sebagai yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir di Arab Saudi, menewaskan 13 orang. Meski demikian, pihak penyelenggara memastikan protokol keamanan akan diperketat demi kelancaran acara bergengsi ini.
Analisis Dampak: Keputusan Canelo ini menjadi bumerang sekaligus berkah bagi citra Arab Saudi. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa Arab Saudi serius menjadi pusat olahraga dunia (sportswashing) dan tidak ingin terlihat lemah di mata internasional. Namun, bagi masyarakat sipil, eskalasi konflik ini menjadi pengingat keras bahwa harga sebuah hiburan mahal bisa jadi nyawa. Penggemar tinju global kini dihadapkan pada dilema etis: menonton pertarungan spektakuler atau mengabaikan krisis kemanusiaan yang terjadi di sekitar lokasi pertandingan.