Perang di Ukraina yang telah berlangsung empat tahun, merenggut nyawa ratusan ribu orang dan memporak-porandakan kehidupan jutaan lainnya, kini memasuki babak baru yang penuh harapan sekaligus tantangan. Setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbicara langsung dengan Presiden AS Donald Trump, para pejabat kedua negara dijadwalkan bertemu di Jenewa, Swiss, Kamis ini. Pertemuan ini disebut sebagai upaya serius terbaru untuk mencari solusi damai, namun apakah diplomasi bisa mengurai benang kusut yang telah lama melilit?
Panggilan telepon antara Presiden Zelenskyy dan Presiden Trump, yang juga melibatkan utusan AS Steve Witkoff serta penasihat Jared Kushner, terjadi sehari sebelum pertemuan penting di Jenewa. Menurut penasihat kepresidenan Ukraina Dmytro Lytvyn, pembicaraan ini berlangsung sekitar setengah jam dan membahas agenda pertemuan di Jenewa, sekaligus persiapan untuk babak diskusi trilateral berikutnya yang akan melibatkan pejabat Rusia, direncanakan pada awal Maret.
Presiden Zelenskyy menyatakan harapannya agar pertemuan ini membuka jalan menuju diskusi di tingkat pemimpin, khususnya pertemuannya langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Baginya, inilah satu-satunya cara untuk menuntaskan isu-isu kompleks dan sensitif, serta mengakhiri perang. Pertemuan bilateral di Jenewa yang dihadiri negosiator utama Ukraina Rustem Umerov bersama Kushner dan Witkoff, akan membahas detail rencana pemulihan pascaperang, persiapan pertemuan trilateral Maret, dan potensi pertukaran tahanan.
Tak hanya itu, utusan urusan ekonomi Rusia, Kirill Dmitriev, juga hadir di Jenewa untuk bertemu negosiator AS terkait isu-isu ekonomi, demikian laporan kantor berita TASS. Serangkaian pembicaraan ini merupakan bagian dari upaya damai yang diinisiasi oleh Presiden Trump. AS, menurut Zelenskyy, sangat ingin konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini segera berakhir. Ia juga menyebut pertemuan ini akan mencakup pembahasan "paket kemakmuran" dan persiapan dokumen ekonomi bilateral antara Ukraina-AS.
Namun, di balik optimisme diplomasi, jurang perbedaan antara Moskow dan Kyiv masih lebar. Zelenskyy sendiri mengakui bahwa masalah saat ini bukan lagi di level militer, melainkan pada kemauan politik untuk mengakhiri perang dan terutama isu teritori. Sementara itu, laporan Bank Dunia terbaru menunjukkan bahwa biaya rekonstruksi ekonomi Ukraina diperkirakan mencapai $588 miliar, sebuah angka fantastis yang menggambarkan skala kehanchan. Sejak pembicaraan langsung pada Januari, kedua negara masih buntu dalam masalah utama terkait wilayah dan jaminan keamanan. Rusia menginginkan Kyiv menyerahkan kontrol atas Donbas, sementara Ukraina mempertahankan kedaulatan wilayahnya.
Bagi masyarakat Ukraina, setiap detik perundingan ini adalah harapan akan akhir dari penderitaan panjang. Perang yang telah berlangsung empat tahun ini tidak hanya merenggut ratusan ribu nyawa, tetapi juga mengusir jutaan orang dari rumah mereka dan menciptakan kekhawatiran keamanan yang meluas di seluruh Eropa. Kelanjutan dan hasil dari pembicaraan di Jenewa serta pertemuan trilateral Maret mendatang akan menjadi penentu apakah upaya diplomasi ini benar-benar bisa membawa perdamaian yang berkelanjutan, ataukah hanya akan menambah daftar panjang kegagalan. Kunci utamanya terletak pada kompromi politik yang mungkin masih sulit dicapai.