Partisipasi pemilih warga Palestina yang memegang kewarganegaraan Israel pada pemilihan parlemen kali ini melonjak drastis. Beberapa kota bahkan mencatat angka partisipasi di atas 70 persen, jauh melampaui tren historis yang biasanya hanya berkisar 45 hingga 65 persen. Lonjakan ini bukan tanpa alasanâbanyak warga yang biasanya golput kini merasa terpanggil untuk menghentikan pemerintahan sayap kanan yang dianggap semakin memusuhi warga Arab.
Pemicu utamanya adalah sejumlah kebijakan kontroversial, termasuk upaya pemukim Yahudi mendirikan pos terdepan di tanah warga Palestina di Majd al-Krum, Galilee Atas. Warga setempat mengaku geram dan akhirnya berbondong-bondong ke bilik suara karena sadar betul apa yang menanti mereka jika pemerintahan saat ini kembali berkuasa.
Strategi kampanye Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sekutunyaâMenteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir serta Menteri Keuangan Bezalel Smotrichâyang gencar menyasar warga Arab justru berbalik arah. Alih-alih menekan suara, manuver tersebut malah menggembleng semangat warga untuk mendukung partai Arab, Joint List dan Ra'am. Laporan awal memperkirakan kedua partai itu bisa meraup hingga 17 kursi gabungan, cukup untuk menggagalkan Netanyahu mencapai mayoritas 61 kursi di Knesset.
Meski demikian, jalan menuju perubahan tidak mulus. Pemimpin partai Arab, Ahmad Tibi, mengingatkan bahwa hampir semua partai oposisi menolak berkoalisi dengan partai Arabâsebuah sikap yang ia sebut rasialis di era pasca-7 Oktober. Partai Arab sendiri bersedia memberikan dukungan tacit asalkan tuntutan mereka dipenuhi, termasuk menghentikan kebijakan diskriminatif dan membatalkan rencana aneksasi tanah.
Analisis singkat: Tingginya partisipasi ini menjadi sinyal kuat bahwa warga Palestina di Israel semakin sadar politik. Namun, tanpa kemitraan nyata dari partai Yahudi sekuler, suara mereka tetap berisiko terbuang. Dampaknya bagi masyarakat luasâterutama warga Arabâadalah harapan baru untuk kebijakan yang lebih adil, tetapi juga risiko polarisasi yang makin tajam jika parlemen tetap terpecah.