Washington, DC — Hasil pemilihan sela (midterms) Amerika Serikat benar-benar di luar dugaan. Partai Republik resmi kehilangan kendali atas Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Gelombang kemenangan Partai Demokrat yang dijuluki 'tsunami biru' ini bukan cuma soal politik biasa, tapi jadi tamparan keras buat eksistensi Donald Trump di mata pemilihnya sendiri.
Kekalahan telak di wilayah-wilayah yang dulu jadi benteng Republik, seperti Texas, bikin panik elite partai. Wakil Presiden JD Vance langsung buka suara di media sosial X. Dia blak-blakan menyebut penyebab utama kekalahan adalah perang. Vance mengakui kalau pemilih lama Trump beralih haluan gara-gara kebijakan perang Iran dan kedekatan AS dengan Israel.
Dampak perang ini memang brutal. Sejak AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz praktis lumpuh. Padahal, jalur itu dilalui 25 persen perdagangan minyak dunia. Alhasil, harga minyak mentah Brent sempat meledak ke angka 120 dolar AS per barel. Walau kini turun ke kisaran 93 dolar AS setelah pasar berharap konflik mereda, harga BBM dan pangan di AS tetap mencekik warga.
Analis dari Chatham House, Andrew Payne, menilai situasi ini jadi 'pil pahit' buat Republik. Siapa pun yang mau maju di Pilpres 2028 mendatang wajib hukumnya menjauh dari kebijakan kontroversial Trump, terutama soal perang. Namun, tugas itu berat karena Trump masih berkuasa dan diprediksi tetap mau cawe-cawe sebagai 'kingmaker'.