Gelombang kepulangan pekerja besar-besaran terjadi di Kota Surat, pusat industri tekstil India. Bukan karena liburan, melainkan karena krisis gas elpiji (LPG) yang parah, memaksa ribuan orang meninggalkan pekerjaan mereka dan kembali ke kampung halaman setelah berhari-hari kesulitan mendapatkan gas untuk memasak.
Krisis ini bukan sekadar masalah domestik, melainkan cerminan dari rapuhnya rantai pasok energi global. Gangguan pasokan LPG ke India, khususnya di Surat, berakar dari gejolak dan dampak konflik di Iran, sebuah fenomena yang menunjukkan bagaimana ketegangan geopolitik jauh di Timur Tengah bisa mengguncang dapur dan mata pencarian masyarakat di belahan dunia lain.
Dampaknya sangat luas. Tak hanya rumah tangga yang kelimpungan, berbagai industri di Surat, yang dikenal sebagai salah satu sentra tekstil terbesar, juga terancam lumpuh. Beberapa bahkan sudah bersiap menutup operasional, memicu PHK massal dan mengancam stabilitas ekonomi lokal. Pemerintah setempat telah bergerak cepat, memberlakukan langkah darurat untuk memprioritaskan pasokan gas bagi rumah tangga, namun situasi bagi sektor industri tetap memprihatinkan.
Bagi para pekerja tekstil, ketiadaan gas ini bukan hanya tentang memasak atau kenyamanan, tetapi juga ancaman serius terhadap mata pencarian mereka dan stabilitas ekonomi keluarga. Eksodus pekerja ini dapat memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap produktivitas dan investasi di sektor tekstil India, bahkan memperburuk kondisi sosial di daerah asal mereka.