Warga Bulgaria kembali ke bilik suara untuk menentukan presiden baru mereka dalam putaran kedua yang berlangsung Minggu (19/11). Pertarungan ini mempertemukan Presiden sementara Iliana Iotova melawan mantan Perdana Menteri Andrey Gyurov, di tengah bayang-bayang krisis keamanan dan ekonomi yang mencekik.
Iotova, politikus berusia 61 tahun, sebenarnya memimpin perolehan suara di putaran pertama. Namun, dominasinya belum cukup untuk menang mutlak karena belum menembus ambang batas 50 persen. Tantangan terbesarnya bukan hanya sang rival, melainkan juga apatisme publik. Rekor partisipasi terendah tercatat di putaran pertama, di mana hanya 23 persen pemilih yang menggunakan hak suaranya.
Isu utama yang menghantui pemilu kali ini adalah serangkaian serangan drone terhadap kapal dagang di lepas pantai Laut Hitam Bulgaria. Insiden ini menewaskan sekitar dua lusin pelaut dan memicu kemarahan internasional. Pemerintah pun terpaksa meminta bantuan sekutu untuk memperkuat keamanan maritim. Perdana Menteri Rumen Radev menilai serangan tersebut menguntungkan Federasi Rusia, sementara kedua kandidat presiden menyerukan solusi diplomatik untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Peta politik pun terbelah. Iotova yang didukung Radev dianggap memiliki kecenderungan pro-Kremlin oleh para analis. Sementara itu, Gyurov mendapat dukungan penuh dari partai reformis pro-Barat dan tokoh senior seperti Boiko Borisov. Mantan PM sementara itu dikenal vokal mendukung Ukraina dan telah menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dengan Kyiv. Jika menang, Iotova akan mencatat sejarah sebagai presiden perempuan pertama yang terpilih secara langsung di Bulgaria.