Jakarta, Indonesia – Dua kapal yang membawa lebih dari 500 orang, mayoritas etnis Rohingya, dikhawatirkan telah tenggelam di lepas pantai Myanmar dalam sepekan terakhir. Hal ini disampaikan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan badan pengungsi PBB (UNHCR) dalam pernyataan bersama, Kamis (10/7/2025).
Menurut laporan awal, kapal pertama yang membawa sekitar 250 orang kehilangan kontak tak lama setelah berlayar dari Negara Bagian Rakhine pada akhir Juni. Sementara itu, kapal kedua yang mengangkut sekitar 280 orang diduga tenggelam di pesisir Ayeyarwady, Myanmar, pada 8 Juli lalu.
"Meski angka pasti korban masih belum terkonfirmasi secara resmi, kami sangat khawatir dengan potensi kehilangan jiwa dalam skala besar," demikian bunyi pernyataan kedua lembaga tersebut. Mereka menambahkan bahwa sebelum insiden ini, lebih dari 300 orang telah tewas atau hilang di Laut Andaman dan Teluk Benggala sepanjang tahun ini.
Yang membuat situasi ini semakin tragis, perjalanan laut ini dilakukan di tengah musim hujan dan badai. Biasanya, para pengungsi Rohingya menghindari perjalanan berbahaya seperti ini saat musim hujan karena ombak besar dan angin kencang. Namun, tekanan hidup di kamp pengungsian yang semakin tidak manusiawi memaksa mereka nekat berlayar.
Analisis Dampak: Insiden ini kembali membuka luka krisis kemanusiaan Rohingya yang tak kunjung usai. Lebih dari 1,2 juta pengungsi masih hidup terlantar di kamp-kamp Bangladesh. Pemotongan bantuan asing, terutama dari Amerika Serikat, membuat kondisi di kamp semakin memprihatinkan dengan jatah makanan yang dipangkas. Di sisi lain, mereka tidak bisa pulang ke Myanmar karena rezim militer yang melakukan genosida pada 2017 masih berkuasa. Situasi ini memaksa ribuan orang untuk memilih risiko mati di laut daripada hidup tanpa harapan di kamp. UNHCR dan IOM mendesak komunitas internasional untuk segera mencari solusi berkelanjutan bagi pengungsi Rohingya, termasuk memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan di laut.