RUSIA NGOS-NGOSAN? INTIP SAKITNYA EKONOMI SANG ADIDAYA! - Berita Dunia
← Kembali

RUSIA NGOS-NGOSAN? INTIP SAKITNYA EKONOMI SANG ADIDAYA!

Foto Berita

Empat tahun setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, kehancuran bukan hanya terjadi di medan perang, tapi juga merembet ke sektor ekonomi. Tak cuma Ukraina yang menanggung beban berat—Bank Dunia bahkan memperkirakan biaya rekonstruksi Ukraina sudah mencapai $588 miliar, atau hampir tiga kali PDB negaranya—tapi Rusia pun ternyata tak luput dari hantaman telak. Perang ekonomi antara Rusia dan Barat justru makin sengit, bahkan disebut bisa jadi penentu arah akhir konflik.

Di tengah "kabut perang" informasi yang seringkali dibumbui propaganda, banyak narasi muncul yang menyatakan ekonomi Rusia baik-baik saja dan berhasil lolos dari jerat sanksi. Namun, laporan terbaru dari Foreign Policy Research Institute (FPRI) mencoba membongkar mitos ini dengan fakta-fakta yang bikin tercengang.

Benarkah biaya ekonomi yang ditanggung Rusia masih bisa diatasi? Nyatanya tidak. Rusia sudah kehilangan pasar gas terbesarnya di Eropa. Sebelum perang, Moskow menjual sekitar 150 miliar meter kubik (bcm) gas ke Uni Eropa tiap tahun. Sekarang, angka itu anjlok drastis ke 38 bcm saja. Jika dihitung dengan harga gas Eropa saat ini, Rusia kehilangan potensi pendapatan fantastis, sekitar 34 miliar euro (setara $40 miliar) tiap tahun! Jumlah ini akan terus membengkak karena negara-negara Uni Eropa berencana menghentikan total impor gas Rusia di tahun mendatang.

Tak berhenti di situ, sekitar $335 miliar aset kedaulatan Rusia di seluruh dunia masih dibekukan. Meskipun Kremlin berulang kali mengajukan gugatan hukum, bahasa tubuh dan tawaran negosiasi mereka belakangan justru mengisyaratkan pengakuan bahwa sebagian besar aset itu kemungkinan besar tidak akan pernah kembali.

Bahkan "celengan" terakhir Rusia, National Wealth Fund, dilaporkan makin menipis. Penarikan dana di awal tahun mencapai rekor tertinggi, dan ada kekhawatiran dana ini bisa ludes sebelum akhir tahun jika harga minyak tidak segera naik signifikan. Satu-satunya sektor ekonomi yang terlihat gagah perkasa hanyalah produksi militer dan pertahanan, namun tingginya biaya pinjaman dan tren penurunan...

Jadi, meskipun narasi Kremlin mungkin terdengar meyakinkan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sanksi Barat dan perubahan pasar global benar-benar menekan kocek negara adidaya itu. Kondisi ini jelas punya dampak luas: mulai dari ketidakpastian harga energi global yang bisa memicu inflasi di banyak negara (termasuk Indonesia), hingga perubahan dinamika geopolitik yang fundamental. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu kritis menyaring informasi dan melihat fakta di balik setiap klaim, demi memahami gambaran sebenarnya dari konflik yang berkelanjutan ini.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook