LONDON - Polisi Inggris kembali menangkap seorang warga negara Inggris berusia 22 tahun terkait insiden keamanan di Pangkalan Udara RAF Fairford, markas pesawat pengebom Amerika Serikat. Penangkapan ini menjadi yang ketujuh dalam dua minggu terakhir, menandakan investigasi masih berjalan intensif.
Counter Terrorism Police menyatakan pria tersebut ditahan atas dugaan persiapan tindak terorisme. Senior National Coordinator for Counterterrorism Policing, Vicki Evans, menegaskan penyidik masih menelusuri berbagai kemungkinan dan berkomitmen mengusut tuntas semua sudut kasus.
Enam tersangka sebelumnya sudah dibebaskan dengan jaminan. Meski begitu, misteri insiden ini belum sepenuhnya terkuak. Yang menarik, Amerika Serikat menarik pesawat B-52 dan B-1 dari RAF Fairford pada Minggu lalu. Presiden Trump mengklaim penarikan itu dilakukan karena adanya ancaman, dan menyebut pihak yang mengancam "terkait Iran." PM Inggris Andy Burnham juga menyatakan ada "indikasi kuat" keterlibatan Iran, meski Teheran membantah keras tuduhan tersebut.
Analisis Dampak: Insiden ini menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang merembet ke Eropa. Bagi masyarakat Inggris, penangkapan beruntun ini memicu kekhawatiran soal keamanan nasional dan potensi serangan balasan. Sementara bagi dunia internasional, kasus ini menjadi ujian diplomasi antara Inggris, AS, dan Iran. Jika terbukti ada keterlibatan negara, konflik bisa meluas jauh melampaui perang proksi. Publik pun menanti transparansi pemerintah soal apa sebenarnya yang terjadi di RAF Fairford.