Jakarta — Gletser Siachen, 'negeri mawar liar' di ketinggian ekstrem Karakoram, masih menjadi medan bisu pertikaian India-Pakistan. Meski gencatan senjata disepakati setelah perang kilat pada Mei 2025, kedua negara tak menarik satu pun tentara dari puncak beku setinggi 6.000 meter ini.
Konflik yang dimulai sejak 1984 ini punya dimensi unik. Tak seperti pertempuran Kashmir lainnya yang panas, Siachen justru menjadi 'perang diam'. Pada Februari 2016, longsoran es raksasa setinggi 182 meter menimbun posko India di Sonam Post. Dari 10 tentara, hanya satu yang selamat: Lance Naik Hanamanthappa Koppad. Ia ditemukan hidup setelah lima hari terkubur dalam suhu minus 30 derajat Celsius, sebuah 'keajaiban' yang sempat menyita perhatian publik India.
Analisis: Keputusan tak menarik pasukan menunjukkan bahwa Siachen bukan sekadar sengketa teritorial, melainkan simbol harga diri militer. Bagi Indonesia, konflik beku ini jadi pengingat bahwa perang modern tak selalu soal rudal dan drone—terkadang, pertempuran paling keras justru melawan alam. Data dari The Hindu menyebutkan, lebih banyak tentara tewas akibat cuaca ekstrem dan longsor dibandingkan tembakan musuh di Siachen.