Lintasan salju di Cortina d’Ampezzo menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah ambisi besar. Ikon ski dunia, Lindsey Vonn, harus mengubur mimpinya meraih medali keempat Olimpiade setelah jatuh parah saat berlaga di nomor downhill putri Milan-Cortina Games, Minggu lalu. Ironisnya, insiden ini terjadi hanya 13 detik setelah ia memulai balapan, meninggalkan Vonn dengan tangisan kesakitan dan luka yang kemungkinan besar mengakhiri comeback beraninya.
Vonn, yang kini berusia 41 tahun, sebenarnya sudah berkompetisi dengan lutut kiri yang cedera. Seminggu sebelum balapan nahas itu, ia didiagnosis mengalami robekan ligamen anterior cruciatum (ACL). Namun, semangatnya untuk meraih medali di disiplin favoritnya tetap membara. Sayang, di lintasan Olimpia delle Tofane yang dulu sering memberinya kejayaan, Vonn menghantam salju keras dan terguling dengan ski masih menempel – kondisi yang bisa memperparah cederanya.
Suasana dramatis pun tak terhindarkan. Staf medis segera mengerubungi atlet peraih emas Olimpiade 2010 itu. Vonn dievakuasi menggunakan helikopter, sementara para penggemar di tribun memberinya tepuk tangan riuh sebagai bentuk penghormatan atas keberaniannya. Di sisi lain, rekan senegaranya, Breezy Johnson, berhasil meraih medali emas untuk Amerika Serikat. Emma Aicher dari Jerman menyabet perak, dan favorit tuan rumah, Sofia Goggia dari Italia, harus puas dengan perunggu.
Kecelakaan ini menandai babak akhir yang pahit bagi Vonn. Setelah pensiun pada 2019 dan kembali berkompetisi November 2024 pasca operasi penggantian sebagian lutut kanan, ia sejatinya menunjukkan performa menjanjikan. Vonn bahkan sempat beberapa kali naik podium dan meraih dua kemenangan di ajang Piala Dunia musim ini. Namun, insiden di Cortina ini tak hanya mengakhiri harapannya di Olimpiade, melainkan juga memicu spekulasi kuat tentang berakhirnya total karier comeback-nya. Di usia yang tak lagi muda untuk seorang atlet ski, Vonn telah menunjukkan tekad luar biasa, bersaing dengan atlet yang usianya hampir setengahnya. Kisahnya menjadi pengingat tentang batas fisik dan pengorbanan yang tak jarang berujung tragis di dunia olahraga profesional.