Palang Merah Internasional memberikan peringatan serius. Wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) bagian timur diprediksi belum mencapai puncaknya dan bisa berlangsung hingga satu tahun ke depan.
"Puncaknya, saya pikir, bukan di belakang kita, melainkan di depan kita," ujar Bruno Michon, manajer operasi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), dalam konferensi pers baru-baru ini. Michon menambahkan, sangat sulit mengetahui sejauh mana penyebaran epidemi ini.
Data pemerintah menunjukkan, virus yang menular melalui cairan tubuh ini telah menewaskan 192 orang dan menyebar cepat di tiga provinsi. Yang mengkhawatirkan, petugas Palang Merah di lapangan kerap mendapat ancaman dan serangan saat melakukan pemakaman yang aman. "Membangun kepercayaan butuh waktu, tapi dalam wabah ini, itu bukan pilihan; ini menyelamatkan jiwa," tegas Michon.
Para ahli dari organisasi Doctors Without Borders (MSF) juga mengakui tidak ada yang tahu skala sebenarnya dari wabah ini. Kelemahan terbesar justru ada pada sistem pengujian dan pendataan. Seorang pejabat kesehatan senior DRC yang berbicara secara anonim mengungkapkan, data dari laboratorium, rumah sakit, dan tim surveilans sangat sulit diselaraskan. Akibatnya, terjadi ketidakakuratan; ada pasien yang terhitung dua kali karena berpindah zona kesehatan, sementara banyak korban meninggal di komunitas tanpa tercatat oleh otoritas.
Analisis: Situasi ini sangat berbahaya karena ketidakpastian data membuat respons medis menjadi lamban. Jika virus menyebar tanpa terdeteksi, risiko penularan lintas batas negara semakin besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga potensi krisis kemanusiaan yang lebih luas di Afrika Tengah.